Tampilkan postingan dengan label about life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2018

Don't Stop Now.

0 komentar
“Where are you going?”
“On.”



I remembered that one question Harry asked Dumbledore when they met inside Harry’s imagination, a while after Voldemort hit him with the killing curse. And I used to wonder, what did that even mean? “On.”
And then I figured that out when I was asking myself, where I am going now.
It’s never about a state of place —it’s a state of doing, instead.

I don’t think we’re ever meant to stop in one place and die there —no, we keep ON going/walking/thriving/giving/forgiving and so on.
When you’re hurt, you keep on healing.
When you’re lost, you keep on searching.
When you fell down flat on your face, you get up and then you keep on going.
Where? On.
No matter how badly life tries to stumble you down, even if it does succeed on making you fall; you just keep on going.
He will unveil the path —don’t stop now.
Don’t stop, ever.

Jumat, 29 Juni 2018

26th

0 komentar
Should've posted this two months ago, but yeah, better late than never, rite? So here we go...

I always think that “birthday” is a weird concept.
You wake up and suddenly you have gained a year. Or, depending on your point of view, you have lost yet another year. (I’m more a realist though, so I prefer to see it as I am adding one more number to my age.)
But no matter what your perspective is, one thing persists: you wake up, and something has changed. Whether it is your age, your years on earth, or the remaining days you have left to live. And change is not easy. Change is something that will shake you, sometimes to your core. Change will always be associated with something uncomfortable.
Being 25 was definitely not the most comfortable place that I have ever been. It is funny that when you were 15, you thought you can handle everything–and then come along adulthood, and suddenly you realized that everything you thought you know was just it: thoughts. You never made it into reality until you see the reality itself. And being 25, I have had a glimpse of reality itself: work, traffic jams, stressful jobs, stuck dreams, imbalanced relationships, etc. And what a horrifying reality it was, it made me want to escape so bad. And I’m really good at that: escaping. I almost always do that, escape from everything, giving myself the safety net, plan B, and even building walls and exit ways.
And poof, suddenly, one year has gone. I am now 26. Time has not been running–it’s been galloping. And strange thing is, I am not exactly in the most comfortable place that I thought I would be in years ago. I’m currently still living far away from home. And even my exact birthday was spent somewhere else. Escaping things have also not made it any better, though: I’m still stuck, and moreover, still afraid of the uncertainty.
But I’m here, I’m here. I’m still alive and well. I’m still changing and I always will. It might have just struck me that perhaps, that comfortable place will never be manifested in real life. Perhaps it is time for me to embrace the chaos while still maintaining the order of it.
Here's to being 26. Mid-life crisis syndrome can't steal my joy. No one ever.


Rabu, 17 Mei 2017

Bakar Jembatan

0 komentar
Bagi yang udah nonton film "Critical Eleven" pasti langsung ngeh sama judul diatas. Punchline yang dilontarkan Ale ketika ingin melamar Anya didalam mobil. Sebagai salah satu orang yang sangat menantikan novel Critical Eleven diadaptasi ke layar lebar, tentunya di pemutaran hari pertama pun saya sudah turut serta mengambil bagian untuk menonton. Dan film ini sukses mengaduk-aduk perasaan wanita di usia tanggung seperti saya.

((( USIA TANGGUNG )))

Usia tanggung yang saya maksud adalah quarter-life-crisis atau krisis seperempat abad.
Usia-usia dimana undangan yang kalian terima udah bukan hanya undangan nikahan lagi bahkan udah memasuki zona undangan aqiqah-an.
Usia-usia dimana ketika pembahasan dikala ngumpul dengan temen se-geng udah memasuki harga stroller, pampers yang super dry, dan juga tempat baby spa yang lucu.
Usia-usia dimana mengunjungi mothercare jauh lebih satisfying dari stradivarius.
Usia-usia dimana kalian mulai nelangsa kehilangan temen "maen" karena prioritas mereka udah naik tingkat ke mengurus keluarga.
Usia dimana kamu belum memasuki semua tahapan diatas.

Sedang di zona itu? *mari berpegangan mengelilingi bola dunia*

Back to "Bakar Jembatan". Bakar Jembatan merupakan istilah yang dipakai Ale ketika mengutarakan keinginannya untuk memasuki tahap yang lebih serius bersama Anya. Ibarat dua orang yang sedang menyeberang ke suatu tempat dan melewati sebuah jembatan, ketika tiba di tempat yang dituju mereka memutuskan untuk membakar jembatan itu bersama-sama. It means, no turning back! Ga bakal bisa balik lagi karena jembatan itu merupakan satu-satunya jalan penghubung antara tempat sebelumnya dan tempat yang kalian tuju. Dalam kasus Ale-Anya, Ale merasa yakin bahwa Anya orang yang tepat bagi dia untuk membakar jembatan itu sama-sama. Even ga ada lagi turning back bagi Ale, dia merasa akan baik-baik saja karena telah melakukannya bersama Anya. SAMPAI DISINI ADA YANG TIBA-TIBA INGIN SEGERA MEMILIKI ALE IN HER OWN VERSION? YOU'RE NOT ALONE, GIRLS. *pukpuk*

Bagaimana sih kita bisa yakin sudah menemukan orang yang tepat untuk "bakar jembatan bareng-bareng"? Pertanyaan ini kembali terlontar dikali kedua saya beres nonton Critical Eleven. IYA, 2 KALI. Saking masih kangennya sama Ale jadinya 2 kali. *EH*
Ya, apa sih yang bisa buat kita sebegitu yakinnya? Pertanyaan ini kerap hinggap pada wanita usia tanggung seperti saya. Dengan melihat bahwa tidak semua berakhir bahagia justru membuat saya pun kerap takut. Ada yang ditinggal ditengah jalan, ada yang kehilangan hal yang sangat dinantikan seperti kisah di film Critical Eleven, ada yang harus melepas mimpi-mimpinya karena harus merubah prioritasnya. Ada begitu banyak contoh ga manis yang saya lihat di sekitar. Sebab semua yang manis-manis biasanya lebih sering tersuguhkan di film :') Bukannya saya apatis dengan happiness after marriage, tetapi you know lah melihat contoh nyata lingkungan sekitar membuat kita lebih hati-hati atau bahkan takut.

Perenungan ini terus berlanjut dan membawa saya kepada satu kesimpulan.
Untuk membakar jembatan bareng-bareng, carilah orang yang siap membawa 'minyak' untuk memperbesar nyala apimu. Jangan cari orang yang membawa air, karena itu hanya akan memadamkan apimu. Jangan cari orang yang membawa angin, karena dia hanya akan meniup apimu sehingga kemana-mana. The conclusion is, find the one that dreams the same vision with you. Karena beberapa kegagalan yang terjadi disebabkan karena menghidupi dua visi yang berbeda. Akhirnya di pertengahan jalan mereka sadar, kalau apinya akan segera redup sebelum jembatannya habis terbakar karena yang satu lagi sedang mencoba memadamkannya dengan air.

I hope you got my point :')

"Do two people walk hand in hand if they aren't going to the same place?" (Amos 3:3)

Minggu, 07 Mei 2017

Turning 25

0 komentar
I don't even know where to start. Too many things happened lately.
I turned to 25 last month.
sweet surprise #turning25

I faced (probably) the toughest year of my life.
Mencapai 25 yang digadang-gadang banyak orang harus disambut dengan sedemikian rupa justru tidak berlaku untuk saya. Entah kenapa saya sedikit tidak semangat menyambut pergantian tahun di tahun ini. Tidak mengharapkan dapat ucapan, kado, bahkan kehadiran. Bahkan pengen seharian quality time sama kasur di 24 April kemaren. Bukan, bukannya tidak bersyukur, but those birthday-routines didn't excited me anymore. I don't know why. It just flat.
2016-2017 is a year filled with college-drama. No, no, it's not about romance story between senior-junior or dosen-mahasiswi (*loh?). I'm just... too tired with this reality.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengambil major Engineering untuk melanjutkan studi saya. Diplomanya kimia, S1-nya teknik, ibarat rambut mungkin otak saya butuh di smoothing beberapa bulan belakangan ini. Deal dengan tugas-tugas yang tak kunjung usai, jam kuliah dari jam 7 pagi - 9 malam. Literally, 7 pagi guys no deal at all dan bener-bener teng go jam 9 malam ga pake dicepet-cepetin. Dan fyuhh.. di sabtu malam :') Di saat gadis-gadis lain diluar sana sedang mempersiapkan diri untuk dijemput pangeran berkuda putih, saya sudah lupa bahkan rupa pangeran itu seperti apa, wekekek :p

But at those hectic time, I had a favorite song titled 'Dalam-Mu' from Symphony Worship which the lyric taken from Psalm 23. You guys must listen to this song:

"The Lord is my Shepherd, i shall not fear
guide me in the right path, for the honor of His name
eventhough i walk through the darkest valley..
I will not be afraid"
NYESSS..
Diingetin lagi kalo sekelam apapun 'lembah' yang saya hadapi saat ini, respon yang harus saya berikan ya harus tetap berjalan, tanpa ngeluh, tanpa khawatir, tanpa gentar, tanpa takut, karena saya tahu siapa Gembala yang berjalan didepan saya.

So, entering 25, I do learn lots of things. A LOT.
1. In the quietness of His love, I found my strength.
All we need is to rest in Him, put away all the fear, the doubt, the worry and rest in Him knowing He is God. Then the small gentle voice will speak in your heart. You just have to be quiet, and listen.
2. ALL things work together for good.
Though we might not understand what God is doing, please know that He is a builder, not a crusher. What He is doing is to make something new, better and cooler than what we can imagine.
3. Align with God is never easy, but that is what life about.
This is my wish entering 25. For my heart aligns with God's heart. For my life aligns with what He wants. And alignment is never easy. It caused pain and hurt sometimes. But if it what really matter, then why need to run away.
4. Hold on to God, not to people.
Those things make me stand alone. I was forced to meet and work with new people I've rarely talk with. My comfort zone was 'taken' from me. My inner circle of friends. I was 'forced' to learn that God is my only source of strength.
5. I am loved.
And that's enough to give me courage to carry on and take a step, one a time. Not only by God, but from people surround me.
Much of love,
si gadis 25 tahun!

After 3 years, I'm back!

0 komentar
YEAAAY HELLO WORLD!
Maafkan diriku yang tak pernah muncul lagi di blog ini since last 2014. Begitu banyak yang sudah dialami dan tidak terbagikan disana sampai bingung harus mulai dari mana. HAHA. Blame my un-consistency :(


Well, di postingan yang ini saya sempat mencurahkan sedikit kekhawatiran di masa saya ga tau mo kemana dan merindukan banyak hal, dan hari ini kalo baca-baca postingan yang sudah lewat, jadi malu sama Tuhan karena terlalu sering menyisipkan berbagai-bagai kekhawatiran di hal-hal yang sudah Dia pegang untuk saya. Intinya, 3 tahun yang sudah lewat ini, HE'S BEEN TOO GOOD TO ME :')

Jadi, apa saja yang sudah terlewatkan?
Setelah melewati masa kontrak dengan tempat dimana saya mengabdi kepada negara (HAHA), akhirnya saya memutuskan untuk 'kembali'. KEMBALI KEMANA? Bukan ke pangkuan ibu pertiwi tentunya.

Bandung.
Kota yang tidak pernah berhenti untuk memanggil-manggil. Dan kini, akupun kembali. Berbekal support kedua orang tua, sudah jauh dari cukup untuk kembali menata hari-hari sebagai anak rantau. Ahh, sambil ngetik ini sambil mewek sebenernya. Ada sejumput rindu untuk kedua orang tua yang tidak henti-hentinya memberikan support untuk saya kembali mengejar apa yang menjadi mimpi saya.

KULIAH LAGI.
Yeaay, kini saya kembali menyandang status sebagai mahasiswi. Kembali menyesuaikan, kembali bergelut dengan tugas dan asistensi yang tak kunjung reda, kembali sleep-less, kembali kangen, dan ya.. kangen. Kangen mama dan papa. Kangen rumah.

Doain yaa, semoga bisa konsisten lagi untuk menulis dan menulis. :')

Selasa, 04 Februari 2014

Future Holder

0 komentar
Sudah lama rasanya pengen nulis postingan tentang ini. Ketunda mulu dan baru nemu waktu yang tepat di malam yang syahdu ini. So, here i go...

Sebulan ini saya diliputi kekhawatiran soal masa depan. Tentang apa yang bakal saya lakuin di 2015. Buat yang belum tau, setelah lulus dari pendidikan diploma pada tahun 2012 kemaren, saya harus kembali ke kota kelahiran saya untuk mengabdi kepada instansi yang telah menyekolahkan saya di bangku perguruan tinggi. Kuliah saya di support oleh program beasiswa Kementerian Perindustrian. Dan setelah lulus, saya harus menjalani masa kontrak kerja selama 2 tahun. Setelah itu, saya belum tau bagaimana akhirnya karena saya belum sampai di titik akhir. Saat ini saya masih setengah perjalanan. Sejujurnya, saya merasakan sebuah kejenuhan yang maha dahsyat. Saya tidak terlalu tertarik dengan rutinitas kerja seperti ini. Datang jam 8, ngetik-ngetik laporan, turun ke lapangan sesekali, menjadi panitia atau narasumber sebuah pelatihan untuk industri kecil, dan kalau tidak ada kegiatan, hanya menghabiskan satu hari full tanpa rutinitas di Kantor sampai jam 4 sore. Saya merasa tidak berkembang secara skill ataupun knowledge. Saya merasa semakin tumpul. Saya merasa tidak bergairah. I just lost my passion...

Mungkin orang-orang diluar sana menganggap kerjaan saya enak. Dengan tingkat mobilitas yang tidak terlalu tinggi, tapi saya memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup dalam sebulan. Belum lagi tunjangan-tunjangan lainnya dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kantor. Tetapi bukan itu yang saya cari. Saya mencari lingkungan yang bisa menajamkan saya dari segi skill dan pengetahuan. Saya mencari lingkungan kerja yang dipenuhi orang-orang yang dinamis. Fyi, saya adalah pegawai termuda di kantor. Rekan-rekan kerja saya umurnya berkisar 40an keatas. Saya merasa seperti bekerja bersama papa dan mama. Sejauh ini tantangan terbesar yang saya dapat dari kantor adalah ketika saya harus menjadi narasumber utama dalam pelatihan pewarnaan batik (sesuai kompetensi ilmu saya semasa kuliah). Selebihnya, saya terjebak dalam ritme pekerjaan yang sangat membosankan.

Saya mulai iri dengan teman-teman seumuran saya yang di usia mudanya, bisa mengexplore kemampuannya di tempat-tempat kerja yang superWOW. Yang bukan hanya menjual nama besar, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik. Ada yang kerja di Nokia, Samsung, Uniqlo, Kraft, Adidas, YKK Zipper, TransTV, Gagasmedia dan di beberapa Bank Negeri maupun Swasta di Indonesia. Melihat sepak terjang mereka dalam dunia karir yang pertama terlintas di benak saya adalah... "Kog pekerjaan mereka keren-keren banget sih, Tuhan?", dan beberapa pemikiran-pemikiran lain yang membawa saya dalam kondisi mengasihani diri sendiri. Sampai pada suatu malam, ga ada angin ga ada hujan, saya ga bisa berkata apa-apa lagi dalam doa malam saya, hanya tangisan saja yang bisa mewakili isi hati saya malam itu. Bahkan saya hampir menyesali keputusan saya mengapa memilih beasiswa pemerintah itu. Iya, saya sudah dalam keadaan desperate banget saat itu. Yang saya lakukan hanyalah khawatir dan complain. Saya sampai pada suatu titik, meragukan kuasa Tuhan. Tepatnya, mulai tidak percaya lagi terhadap rencanaNya atas hidup saya.

Dalam dua tahun ini, saya tidak diizinkan untuk apply pada perusahaan/instansi apapun karena saya masih terikat kontrak dengan Kementerian Perindustrian. Tetapi pada dasarnya saya bandel, saya pun coba-coba apply sana-sini tanpa sepengetahuan siapapun. Walaupun saya tahu, it's impossible for me to work in another place during two years.. 4 Oktober 2013, saya inget banget ada panggilan interview dari Uniqlo, sebuah perusahaan tekstil terbesar di Jepang yang sudah merambah 16 negara (salah satunya Indonesia). Dan yang bikin surprisenya lagi, panggilan interview ini dikirim langsung melalui nomor telepon dengan kode area Jepang (+81), walaupun lokasi interviewnya tetap di Jakarta. Senang dan galau seketika bercampur jadi satu. Senang karena ternyata jauh-jauuuuh dari Jepang, mereka mau melirik CV saya. Galaunya, karena tepat di tanggal yang sama, saya harus mengikuti sebuah event Asia Pacific Choir Games di Manado. Dan saya pun masuk dalam sebuah pikiran yang logis. Percuma juga kalau saya harus ke Jakarta untuk mengikut interview, toh ga bakalan bisa juga dengan kondisi saya saat ini. Satu lagi impian untuk berkembang lebih baik harus melebur bersama kenyataan hidup. Ck!

Sebenarnya, kalau ditanya mengenai passion saya dalam bekerja, saya lebih mencintai bekerja di media. Entah itu di stasiun TV, radio, majalah, koran, penerbitan, advertising, dll. Dari SMP, passion saya dalam hal ini sudah mulai tumbuh. Menjadi pemred mading sewaktu SMP, menjadi pemred sebuah buletin semasa SMA, dan aktif dalam mengisi artikel-artikel dalam beberapa surat kabar/majalah lokal. Tetapi passion saya tidak mendapatkan tempat terbaiknya ketika saya mengakhiri bangku SMA. Cita-cita untuk menjadi mahasiswi komunikasi harus terkubur rapat-rapat karena saya ingin meringankan beban ortu, jadinya nyari tempat kuliah yang bisa dapet beasiwa full + uang hidup. Dan berkat anugerahNya, dapetlah beasiswa full + biaya hidup + biaya buku + biaya transport PP setahun sekali dari Bandung ke daerah asal. Iya, hanya Kementerian Perindustrian memang yang bisa semurah hati itu. Tetapi sebaik apapun fasilitas yang kampus tawarkan, apalah artinya kalau kita tidak mencintai apa yang kita lakukan. Saya harus survive selama kurang lebih 3 tahun untuk berhadapan dengan hal-hal berbau kimia dan tekstil. Sebuah hal yang tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahkan semasa SMA, saya pernah beberapa kali kabur ketika mata pelajaran Kimia. :))

Kerinduan saya saat lulus SMA hanya satu. Saya mau kuliah di luar Palu yang tidak memberatkan ortu dalam hal finansial. Dengan tekad itu pula yang mengantar saya sampai di tempat yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Dan inilah saya saat ini, sedang menjalani masa kontrak yang sisa setahun lagi.

Sejujurnya saya blank dengan apa yang bakal saya kerjakan setelah ini. Saya merasa hopeless. Saya merasa khawatir sekali dengan apa yang orang-orang sebut "masa depan". Padahal, tanpa saya bertanya pun sebenarnya Dia sudah jelas mengatakan kalau rancangan-rancanganNya dalam hidup saya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Tetapi saya lebih mengizinkan kekhwatiran pegang kendali atas hidup saya saat ini. Akibatnya, hidup saya dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Bukan itu saja, saya mulai menyalahkan diri saya akan apapun yang saya alami. Saya merasa sangat jauuuuuuuuh dengan kondisi damai sejahtera.

Saya diingatkan kembali akan janjiNya melalui nubuatan seorang Pastor di Gereja saya ketika masih di Bandung, beliau mengatakan, "jangan takut untuk apa yang akan kamu hadapi di depan, kamu akan dipakai menjadi besar di tempat dimana kamu akan pergi.." JENGJENG! Padahal saya ga pernah ngasih tau sebelumnya kalau saya akan meninggalkan Bandung dalam waktu dekat. Tetapi dengan ajaibnya Tuhan memakai Pastor itu untuk meneguhkan saya. Dan itu terbukti, baru beberapa bulan kembali di Palu, Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi seorang youth leader di Gereja lokal saya. Walaupun banyak pergumulan yang saya hadapi dalam memimpin di komunitas ini, tapi kasih sayang Tuhan terus berlaku dalam "menangkap" saya untuk tidak lari meninggalkan komunitas ini.

Sampai akhirnya saya merenung...
Aphro, dimana kamu taruh iman kamu? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, why still worry? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa bandingin masa depan kamu dengan kisah orang lain? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa kamu takut? 
Kenapa?
Karena simply, saya lebih menaruh iman kepada yang kelihatan daripada yang gak kelihatan. Which is itu berarti bukan iman. Dan untungnya Tuhan masih terlalu amat sabar sama saya. Then i know i have a faithful God. Ya, sekarang memang saya belum melihat apapun yang akan terjadi didepannya, saya belum melihat pintu-pintu lain yang akan terbuka untuk saya, saya belum tahu apa yang bakal saya lakuin, i don't understand His plan for me nowadays, i don't know what His will. But one thing i know for sure... Even when i don't understand His plan for me, i know He is with me.
 
You don't have to be worry, you don't have to be afraid, because I AM WITH YOU, says the Lord. 
 
Di depan memang saya gak tau akan seperti apa, gak tau apa yang akan terjadi, gak tau harus bagaimana dalam menghadapi apa, but i know, Tuhan ada di depan sana, He has prepared great things for me, He has greater plan than i have for myself.
 
And 'til the doors are opened, i'm gonna still praise Him in the hallway. Because i know, Who's My Future Holder.

Selasa, 21 Januari 2014

(Bukan) Tentang Sebuah Penantian

0 komentar
Kemuning semburat senja menyapanya kembali. Entah sudah senja keberapa yang dilaluinya dengan menatap lengangnya jalanan. Memperhatikan satu per satu orang-orang yang dihadirkan semesta untuk melalui jalan itu. Ada yang tergesa-gesa, ada yang berjalan pelan-pelan, ada yang berjalan seperti tak tentu arah. Ah, seperti yang dia rasakan saat ini. Sesuatu yang tak tentu arahnya. Sesuatu yang tak kunjung datang. Entah apa yang membuatnya bertahan sebetah itu. Keyakinan, mungkin? Sayangnya, hingga detik ini keyakinan tersebut kunjung tak berbalas. Tetapi dia masih disana, menanti dengan menggenggam harapan ditangan kiri, dan keyakinan ditangan kanannya.

Sebelumnya menanti tidak pernah semudah ini. Menurutnya. Walaupun beberapa orang menganggapnya seperti menjaring angin. Sia-sia. Tetapi keyakinannya mampu membawanya sejauh ini pada sebuah hal yang seringkali membuat banyak orang apatis; Penantian.

Di titik temu tempat yang menanti dan dinanti bertatapan, disana segumpal rindu menunggu untuk segera menguap. Ada desakan, "Mengapa baru sekarang?" yang tersampaikan darinya yang menanti. Ada sukacita dari dia yang dinanti, karena telah dijagai sejauh ini oleh genggaman harapan dan keyakinan olehnya yang menanti. Sebab genggaman harapan dan keyakinan yang berwujud doa itulah yang membawa dia bertemu dengan yang menanti. Seperti papan penunjuk arah. Berjalan dengan pasti menemui dia yang hampir kehilangan arah dalam menanti.

Tidak semua penantian akan berakhir selamanya. Tetapi beberapa dari mereka cukup bersyukur karena sempat dipertemukan. Mungkin saja sempat menabung asa untuk hari-hari depan yang masih penuh misteri. Bukannya kau masih bisa menikmati sendiri isi tabunganmu? Atau, kembali ingin berbagi dengan yang lain?

Sampai disini dia diingatkan. Cinta bukan tentang menanti dan menunggu. :')


"... cinta bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti kan bertemu kembali ..."
( 168 - Monita Tahalea )

Senin, 20 Januari 2014

Road to 9 April 2014

0 komentar

9 April 2014 merupakan salah satu tanggal yang ditunggu-tunggu dalam penanggalan tahun ini bagi masyarakat Indonesia. Hari itu semua warga yang sudah memiliki hak memilih akan beramai-ramai memberikan suaranya for the better Indonesia. Yak, kami akan memilih mereka-mereka yang nantinya akan mewakili suara rakyat duduk di kursi legislatif. Bicara soal hak pilih, tahun ini bersyukur banget bisa memilih mengingat pemilu sebelumnya saya masih berdomisili di Bandung. Jujur saja saya belum memiliki gambaran jelas mengenai siapa yang akan saya pilih nantinya. My faith in government has lost, honestly. Pemikiran apatis semacam, "Buat apa saya memilih, toh ga bakalan ngaruh juga. Paling yang bakal naik hanya mereka yang punya koneksi orang dalam" terus menguasai pikiran menjelang 9 April mendatang. The power of "orang dalam" itu somehow emang nyebelin banget. Ada orang-orang yang memang dengan ketulusan hati ingin mencalonkan diri menjadi anggota legislatif harus berlapang dada tidak terpilih karena ada orang-orang berlatarbelakang artis, sodaranya inilah, sodaranya itulah, yang dengan mudahnya bisa melenggangkan kaki menuju bangku-bangku pemerintahan. Yeah, it sounds pathetic! Hal ini pula yang membuat saya seakan-akan give up dengan sistem pemerintahan di negeri ini. Mo bersuara yah ga bakal didenger. Makanya hanya bisa nulis doang ini di blog :p

Dalam jam saat teduh saya, Dia kembali mengingatkan tentang firmanNya di Roma 13. Saya kembali ditegur lewat firman yang saya baca. Selama ini saya selalu mencari celah untuk menutup diri terhadap apapun yang pemerintah lakukan. Seakan-akan semua yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan tanpa menyadari bahwa mereka adalah hamba Allah untuk kebaikan kita (Roma 13:4). Sampai disini saya berpikir, kebaikan semacam apa yang bisa mereka lakukan? Yak, lagi-lagi saya kembali pada keadaan negative thinking.

Disini saya diajar untuk percaya dan belajar mendoakan pemerintah dalam setiap jam-jam doa pribadi. Karena mereka yang akan terpilih nantinya tetap membutuhkan tiang-tiang yang akan menopang mereka dalam menjalankan pemerintahan. Mungkin akan ada waktunya, someday kita yang bakalan duduk di kursi legislatif sana. Penguasaan diri terhadap gelimpangan harta duniawi dan jabatan dimulai dengan hubungan karibmu dengan Dia. Kapan dimulainya? Ga usah nunggu ketika kamu akan menjadi "wakil rakyat" tersebut, dimulai dari hal-hal kecil dilingkungan tempat Dia menempatkan kamu saat ini. Jadi berkat itu tidak hanya ketika kalian berada di sebuah "posisi", jadi berkat itu adalah gaya hidup orang percaya.

So, untuk kalian semua yang apatis menjelang 9 April 2014 nanti, take time to pray. Dia pasti kasih hikmat dalam memilih. Jangankan memilih pemimpin, memilih yang akan mendampingimu selamanya pun pasti Dia kasih tau. Hihiw! ;)

Senin, 16 Desember 2013

December and the wishes.

0 komentar
Holaaaa..
Udah lama ya kayanya saya hengkang dari blogspot :D
too many stories untold, HAHA.

Here comes December. Ga kerasa udah bulan terakhir di tahun ini. Dan ya, ini Desember pertama tanpa Glorify the Lord Ensemble. Berasa banget jomplang perbedaannya. Mengingat Desember-desember sebelumnya selalu penuh dengan kehectican bersama keluarga favorit ini. How i miss to spent my December with them. *tearsdrop*

Makin bertambah hari, makin bertambah juga umur tentunya. Yang dulunya sangat mengidam-idamkan boneka winnie the pooh as a christmas gift, tahun ini udah bahagia banget ngeliat keluarga bisa kumpul, lengkap, sehat, dan penuh sukacita. Yang dulunya kegirangan banget tiap dapat parsel aneka snacks, makanan, and so on, tahun ini lebih menginginkan parsel the body shop lengkap, HAHAHAHA. :p

So, as days gone by days, years by years, this is my grown up christmas list..

No more lives torn apart,
and wars would never start,
and time would heal all hearts.
Ev'ry one would have a friend,
that right would always win,
and love would never end:
This is my grown-up christmas list.
 (My Grown Up Christmas List - Kelly Clarkson)

Not for myself, but for a world in need :')

Selasa, 28 Mei 2013

Kerjakan Bagianmu, Percaya Bagian-Nya

0 komentar
Diberkatilah tangan yang mengerjakan lebih banyak dari porsinya.
Diberkatilah kaki yang berjalan lebih jauh dari yang diduga.
Diberkatilah punggung yang menopang lebih berat dari yang seharusnya.

Karena diluar sana, ada tangan-tangan yang menengadah meminta-minta.
Ada kaki-kaki kelelahan yang berjalan kesana-kemari memasukkan CV.
Ada punggung-punggung yang teristirahat lemah di pembaringan.

Sesungguhnya hidup ini adalah tentang melakukan sesuatu yang sudah menjadi porsi-mu. Jangan tamak, dan jangan setengah-setengah. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu. Bagian-Nya? Tidak usah diragukan lagi. Dia yang memulai segala pekerjaan baik didalam-Mu, akan mengerjakannya dengan kesetiaan.


:')

People will always find something to say.

0 komentar

Ilustrasi gambar diatas sangat benar adanya. Whatever we say, whatever we do, people will always find something to say or something to complain. "Senang lihat orang susah, susah lihat orang senang" sepertinya bukan hanya sebuah slogan. Beberapa orang disekeliling kita pasti ada yang termasuk dalam kategori ini. Ada-ada saja yang bisa jadi bahan komentar. Entah itu di pekerjaanmu, kuliahmu, pergaulanmu, atau dimanapun.

4 bulan belakangan ini saya menjadi leader dalam sebuah komunitas anak muda yang lumayan besar di kota kelahiran saya. Menjadi leader di komunitas ini sebenarnya bukanlah target dalam hidup saya, bahkan kepikiran pun sebenarnya tidak pernah. Tetapi, seperti apa kata Kolose 3:23, saya pun menerima tanggung jawab ini dan mengerjakannya berdasarkan kerinduan yang Bapa taruh dalam hati saya. Hal pertama yang saya lakukan untuk komunitas ini adalah pembenahan. Seperti halnya rumah yang sudah lama ditinggal pergi pemiliknya, demikianlah keadaan yang saya dapatkan ketika saya memasuki kembali rumah yang dulunya pernah jadi tempat untuk saya menghabiskan banyak waktu sebelum saya menetap di Bandung. Tapi satu hal yang saya syukuri, saya punya "anggota keluarga" yang luar biasa berdedikasi sehingga lambat laun rumah ini "hidup" kembali. Tetapi dalam perjalanan untuk pembenahan ini, tidak semua yang kami dapatkan adalah dukungan. Underestimate, cibiran, offense kerap menghampiri kami. Awalnya ini semua kami jadikan cambuk untuk bekerja lebih keras, tetapi makin kesini saya melihat bahwa, ada-ada saja orang yang mencari-cari kesalahan untuk menggagalkan semangat kami. Secara manusia (karena kami memang manusia :p), ini tentu saja bisa jadi senjata untuk membuat kami down. Setiap mencoba melakukan perubahan, pasti ada aja yang ngomong, "CARI MUKA LO!", tapi kalo ga mengerjakan apa-apa pasti dikomentarin, "LOH KOG GA ADA PERUBAHAN SIH KALIAN? KOG KINERJANYA GITU-GITU AJA?" See, how words can kills you.

Sampai disini, saya kembali diingatkan oleh Kolose 3:23 tadi. Bahwa apapun yang sedang saya, dan kami lakukan, semata-mata bukan untuk cari pujian manusia. Karena seperti gambar dalam ilustrasi diatas, bukan pujian yang akan kita dapatkan ketika kita melakukan sesuatu menurut apa kata manusia. Mungkin saja hari ini bisa memuji atau menyanjung-nyanjung, tetapi kita tidak akan pernah tau, suatu hari dari mulut yang sama akan keluar judgement atau underestimate.

Saya memang masih harus banyak belajar untuk ini. Belajar menyaring setiap perkataan yang masuk agar tidak membuat saya kecewa atau terluka. Sukacita saya tidak ditentukan oleh apa kata orang, tetapi oleh Dia, yang memberi saya kekuatan untuk mengerjakan segala sesuatu. Sebab benar adanya kalo manusia menajamkan sesamanya. Wajar kalau sakit, karena proses penajaman tidak memakai materil yang lembut. Mari sikapi dengan respon yang benar, karena segala sesuatu yang dikerjakan untuk Tuhan tidak akan berujung pada kekecewaan.

Blessed,
-aphro-

Selasa, 02 April 2013

I am God’s Building Under Construction

0 komentar

Belakangan ini, aku mendengar kabar tentang seorang teman lama. Kabar kalau dia akan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ingatanku mundur ke masa lampau. Kami dulu akrab, saling berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan bersama. Namun, karena dia tak kuat menghadapi pencobaan hidup, dia kembali ke kehidupannya yang lama. Dia menjadi people pleaser. Hubunganku dengan dia juga menjauh. Dia mengingkari Tuhan, untuk mendapatkan perhatian istimewa dari lingkungannya.
Aku heran, dengan segala perlakuan istimewa seperti itu, kenapa dia mau mundur? Dari cerita seorang teman lain, rupanya teman lamaku ini pada posisi stagnan.
Miris juga. Semula aku berpikir, dia begitu banyak mendapat perlakuan istimewa, pasti enak banget. Tapi ternyata stagnan.
Sementara aku, kebalikannya. Rasa-rasanya, aku selalu menghadapi yang tidak enak, tempat yang tidak enak, situasi yang tidak enak. Aku bahkan nyaris menyerah menghadapi tantangan ini. Bahkan sudah membuat ancang-ancang pindah ke tempat lain. Ke kota lain. Tapi Tuhan berkehendak lain, meski kelihatannya tempat itu menawarkan segala sesuatu yang lebih baik.
Tuhan menghendaki aku tetap berada di tempat sekarang. Menghadapi Goliat-ku. Yang kelihatan melalui kacamata pribadiku tidak bisa ditaklukan.
Saat itulah Tuhan bicara, ”Kamu lihat, dia memilih kenyamanan, dan dia nggak bergerak ke mana-mana. Stagnan. Aku sengaja menaruhmu ke dalam situasi yang serba nggak enak—semuanya untuk membentuk kamu. Sekarang lihatlah, kamu memang mulai belajar dari nol lagi. Segala sesuatunya seperti terlihat terbalik. Posisimu sepertinya di bawah. Ada 'pelajaran-pelajaran' yang tengah Kuberikan kepadaMu. Ingatlah, berlian tercipta karena dia disesah dan dikikir. Itu sakit. Tapi percayalah, segala sesuatunya mendatangkan kebaikan buatmu, selama kamu taat dan memberi respon yang benar.”

Galatia 6: 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.
Gal 6: 9 (Versi AMP): And let us not lose heart and grow weary and faint in acting nobly and doing right, for in due time and at the appointed season we shall reap, if we do not loosen and relax our courage and faint.

Aku nggak bisa menahan butiran-butiran airmata jatuh dari pelupuk mataku, ketika aku membaca ayat ini. Aku merasa Dia menguatkan aku.
Dan ini catatannya Joyce Meyer, salah seorang Preacher yang sangat diberkati Tuhan, mengenai ayat itu: He takes time to do right; He lays a solid foundation before He attempts to build a building. We are God’s building under construction. He is master Builder, and He knows what He is doing, but He does, and that will have to be good enough.

Yes, I am God’s building under construction.
Tuhan sedang membuat konstruksi bangunan karakterku: pengampunan, kerendahan hati, dan menguatkan otot-otot imanku.
“Suatu ketika, beberapa tahun datang dari sekarang, kamu akan menoleh ke belakang, mengingat peristiwa-peristiwa ini, dan melihat betapa setianya Aku menyertai kamu,” bisikNya lembut.

Orang Buta Nuntun Orang Buta

0 komentar
Ada istilah "orang buta menuntun orang buta"
Mana bisa? Begitu kata orang-orang.
Sebenernya bisa aja... Cuma yah gitu deh...

Keliatannya sih ga ada jalan bagi dua orang buta yang saling menuntun itu.
Jawaban bodohnya karena dua orang itu buta.
Ga ada yang mengarahkan kemana mereka harus melangkah.

Kalo dipikir-pikir, manusia juga sama kaya orang buta tersebut.
Kita semua hidup pasti punya masalah.
Mo berat mo ringan apa aja yang judulnya masalah pasti pernah numpang lewat di depan rumah kita. Kadang ada juga yang nginep berhari-hari bahkan numpang tinggal sampe taonan.

Kalo direnungin lebih jauh,
hidup kita yang punya segudang masalah, tapi ga jarang buat kita pada saat yang sama untuk menolong orang yang sedang dalam masalah.

Setelah direnungin.. direnungin lagi..
ternyata jawabannya sederhana.

"Kita menjadi lebih kuat pada saat kita menolong orang lain."

Dengan cara itulah, sesungguhnya kita melihat dunia jauh lebih indah dari segudang masalah-masalah kita. Kamu tidak buta, hanya memakai kacamata hitam saja. Mungkin perlu dilepas supaya dunia terlihat lebih jelas.
 
 

Minggu, 10 Maret 2013

Catatan Kaki

0 komentar

Setiap kepala, boleh mempunyai rambut yang sama hitamnya. Tetapi setiap kepala mempunyai isi yang berbeda. Pola pikir, cara pandang, dan juga kisah hidupnya. Setiap wajah, dapat memancarkan senyuman lewat tiap lekuk di bibirnya. Tetapi setiap senyuman dibentuk dengan cara yang berbeda, pun juga artinya.

Tiap kita punya satu kemampuan yang sama. Apa? Meng-cover-up. Ya! Itu dia. Tiap kita bisa bertingkah seolah olah semua yang ada di dalam dunia kita, hidup kita seakan baik saja adanya. Padahal deep down inside. HAH... belum tentu seperti apa yang terlihat. Yah! keahlian dalam cover up, membuat orang-orang sekitar bahkan ada yang ingin menjadi seperti kita, berjalan dengan sepatu yang kita kenakan, mereka hanya tidak tau seberapa sakitnya terkadang. Mereka tidak juga lihat goresan lecetan. Mereka tidak tau seberapa kita pun berjuang untuk tetap bertahan dan berjalan.

Saya, pribadi sejauh ini tidak pernah ingin berjalan dengan sepatu yang orang lain kenakan. Saya pribadi sejauh ini sangat amat "nyaman" dengan sepatu saya sendiri. Hanya untuk diketahui. untuk merasakan nyaman, saya harus tau bagaimana cara melangkah, bagaimana posisi kaki ketika ingin berlari, dan kapan saat yang pas ketika memang waktunya berjalan dengan elegan, berjalan santai, sesekali diam jika mulai kesakitan. Semua ada tahapan untuk mendapatkan rasa nyaman. Hingga semakin hari semakin lincah melangkah.

Maka, ada baiknya, kita. Jangan mudah tertarik dengan hal hal yang menarik di mata. Jangan tertarik untuk mengenakan kepunyaan orang lain yang ada. Karena ukuran kaki kita, BERBEDA.

Kamis, 07 Maret 2013

Ujian Praktek

0 komentar
Tuhan, ajarkan kita untuk mengasihi lebih lagi...
Lalu Dia membawa beberapa orang ke dalam kehidupan kita,
Mereka yang menusuk kita dari belakang, dan menjelek-jelekkan kita.
Ia benar-benar mengajarkan kita untuk mengasihi, lebih lagi.

Tuhan, ajarkan kita untuk terus mengucap syukur...
Lalu tiba-tiba hujan turun, sukses membasahi tubuh kita, tepat disaat kita lupa membawa payung.
Lalu bus yang kita tunggu tak kunjung datang, satu jam, dua jam, basah, dingin, penuh debu polusi kendaraan lain.
Ia benar-benar memberi kita kesempatan untuk mengucap syukur, dalam segala hal.

Tuhan, ajarkan kita untuk menjaga hati...
Lalu tanpa alasan yang jelas, orang tua kita mengomel panjang lebar disaat kita sedang lelah berkegiatan.
Ia benar-benar sedang menguji kita, untuk menjaga hati tetap murni dan tidak mudah tersinggung.
 
Tuhan, ajarkan kita untuk sepenuhnya berharap padaMu...
Lalu perlahan demi perlahan, seseorang yang biasanya sangat kita andalkan, seseorang yang selalu jadi orang pertama yang kita cari ketika kita mengalami sesuatu... perlahan dia pergi.
Ia benar-benar sedang melatih kita untuk sepenuhnya berharap padaNya.

Kita tidak akan pernah belajar, jika kita tidak dicemplungkan langsung dalam kondisi dimana kita harus mempraktekan segala teori yang pernah kita pelajari. :)

Senin, 04 Februari 2013

Jalan Keluar Terbaik

0 komentar
Kadang kita terlalu bersikeras mencari jalan keluar dari setiap masalah. Padahal tidak semua masalah memiliki jalan keluar. 

Akhirnya kita mencoba untuk mencari jalan tengahnya. Padahal jalan tengah belum tentu benar-benar di ‘tengah’ posisinya.

Lalu bagaimana?

Satu hal. Manusia memiliki kecenderungan untuk mendapatkan lebih dari yang ia dapatkan. Memiliki yang lebih dari yang ia miliki.

Padahal itulah yang akan menjatuhkannya sendiri

Jalan keluar terbaik adalah, dengan merasa tidak memiliki apapun. Jika kita tidak memiliki mobil, kita tidak akan protes ketika harus naik motor. Jika kita merasa tidak memiliki motor, maka kita tidak akan keberatan jika harus berjalan kaki.

Hal itu berlaku untuk setiap hal yang kita miliki. Termasuk seseorang dalam hidup kita. Dengan tidak merasa memiliki, maka tidak akan ada rasa kehilangan. Bukankah itu yang ditakutkan oleh semua orang?

Dan dalam hal ini, jujur saya masih dalam proses belajar. Bagaimana dengan kamu? :)

Senin, 28 Januari 2013

Balon.

0 komentar

pernah genggam balon? pernah balon yang kamu genggam terlepas? atau pecah?

ketika kamu mendapat kesempatan untuk memegang balon yang lain, mana yang kamu pilih?

pertama, memegang erat balon yang baru itu, sehingga ia tak akan pernah lepas dari genggamanmu, menjaganya dengan sepenuh hati dan tak akan membiarkan ia disentuh siapapun karna takut pecah?

atau, yang kedua, tidak akan lagi pernah memegang balon yang baru itu, karena kamu tau betapa menyebalkan dan sedihnya melihat balon yang kita sangat sukai itu pecah, atau terbang begitu saja?

Keduanya sama. Sama-sama takut kehilangan untuk kedua kalinya.

Kalau kamu yang mana? :')

Selasa, 15 Januari 2013

Dear 2013...

0 komentar

2012 has gone…

Banyak proses yang saya lewatin sepanjang tahun ini. Tahun dimana saya diproses dari seorang mahasiswa tingkat akhir menjadi seorang wisudawan. Tahun dimana saya diproses di komunitas terbaik yang pernah saya temui, Glorify the Lord Ensemble. Banyak hal yang datang ditahun ini, tak sedikit juga hal yang pergi. Siapa bilang saya menjalani tahun ini dengan lancar mulus? Iya, saya pernah tersendat, bahkan sudah menemui jalan buntu, tapi Tuhan yang saya sembah sangat ahli menyediakan jalan lain dan memerintahkan saya untuk putar arah. Awalnya saya kekeuh dengan jalan yang saya mau, tapi sekali lagi saya sadar, kalau saya bukan pemegang kemudi, DIA yang mengendarai, saya duduk disampingnya. Bukankah itu lebih dari aman untuk percaya saja? Sekali lagi sebagai manusia saya sering meragukan DIA.  Saya meragukan jalan-jalan dimana DIA mau bawa saya. Sampai akhirnya, ketika DIA bawa saya ke satu perhentian demi perhentian, saya menyadari bahwa jalan yang tak terselami itu selalu mendatangkan kebaikan.

Di penghujung tahun ini, tepatnya tanggal 23 Desember, dengan resmi saya meninggalkan kota kembang tempat saya menimba ilmu dan jatuh cinta dengan hidup. Selesai menamatkan pendidikan, saya harus segera meninggalkan Bandung karena ada tugas dan tanggung jawab yang harus saya kerjakan di kota kelahiran saya. Inilah proses move on yang sesungguhnya, ketika kamu harus memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sudah kamu anggap ‘Home’. Home disini bukanlah sebuah bangunan. Tapi Home adalah tempat dimana hatimu berada. Berbicara mengenai passion hidup dan lingkungan sekitar, Bandung sudah menjawab itu semua. Saya senang tinggal disini, saya jatuh cinta dengan atmosfir kota ini. Seolah menjawab setiap keresahan hati ini, sabtu sore kak @perempuansore post sebuah tweet yang isinya, “Akhirnya bagi anak daerah yang keluar, yang paling mulia yang bisa dilakukan: berbuat untuk membangun daerahmu” -- JLEB! Dari sini gue belajar untuk berbesar hati kalo kepulangan saya ke Palu bukan untuk liburan atau main-main. Tetapi untuk membangun daerah. Kalau bukan anak daerah, siapa lagi? Toh kalo jodoh suatu saat pasti balik lagi. Kalo jodoh sama Bandung, yah suatu saat pasti akan dibawa lagi kesini :’)

Dan selamat datang 366 hari di tahun 2013. I’ll spent days by days not to counting my problems, but counting the blessing.

Love,
-aphro-

Rabu, 05 Desember 2012

Hello December!

2 komentar
Belom telat kan kalo bikin postingan ini di tanggal segini? Masih tanggal 5, not too late, isn't? :')
Well, selama 20 tahun tahun gue hidup, bulan desember adalah bulan yang paling gue tunggu-tunggu setelah April. Tapi tidak dengan Desember sekarang...

It's gonna be a hard month. Bulan ini gue bakal ninggalin Bandung setelah kurang lebih 3 tahun gue jatuh cinta hidup di kota ini. Rasa-rasanya seperti orang yang udah pacaran 3 tahun trus tiba-tiba putus. Apa? 3 tahun ga lama? Menurut gue lama siiih, karna gue udah ngelewatin beberapa proses di kota ini, which is bukan perkara mudah kalo tiba-tiba gue harus angkat kaki dari kota ini. Honestly, bukan mau gue cabut dari kota ini, tapi apa daya gue harus ngikutin prosedur sebagai salah satu penduduk Indonesia yang disokong kehidupan & pendidikannya selama 3 tahun terakhir oleh Kementrian Perindustrian RI.

Gue inget betul gimana gue harus survive selama 6 bulan pertama di kota ini. Tepatnya gue homesick. Iyaaa, 6 bulan pertama itu berat banget. Tiap malam gue nangis kangen mama, kangen papa, kangen kakak, kangen adek, karena dari kecil gue jarang terpisah jauh dari keluarga. Days by days, gue makin cinta sama kota ini. Dan di kota ini, semua hal yang dulu hanya berendap sebagai mimpi pun satu persatu menguap jadi kenyataan. Banyak.. Terlalu banyak bahkan. Ibaratnya, di Palu gue menabur harapan, di Bandung gue menuai itu semua.

Bertemu dengan banyak orang luar biasa. Mengalami saat-saat dimana harus belajar menari disaat hujan. Terbentur tembok-tembok yang akhirnya bisa runtuh. Dan di kota ini, burung Pipit pun bisa Dia pakai untuk mengajarkanku banyak hal. Kalo gue punya Sahabat yang lebih dari sekedar sahabat. He's Provider.

Dia ada pas gue homesick dan kangen rumah..
Dia ada pas gue stres karna tugas-tugas yang menggunung..
Dia ada pas gue butuh pendapat kalo lagi bingung..
Dia ada pas gue nangis-nangis karna kehilangan kepercayaan sama sahabat deket..
Dia ada pas gue jatuh bangun berjuang buat nyelesain skripsi tepat waktu..
Dia ada pas gue lagi ga punya apa-apa..
Dan sampai disini gue sadar, gue yang kadangkala ga ada, tapi keberadaanNya jelas ga bisa diragukan lagi.
DIA. SELALU. ADA. BUAT. GUE. -- SELALU...

Untuk semua proses yang sudah gue lewatin kemaren-kemaren, ga ada alasan untuk ga bersukacita menyambut Desember ini. I dunno' what December will brings, but i really know Who holds my tomorrow.

So, here i am. HELLO DECEMBER!

p.s : ga perlu bikin status "Hello December, please be kind", karena Desember ga bakal bisa memenuhi semua keinginan hatimu. Ask it to The One who loves you most, Jesus Christ (:
 

aphrodityasherlisa Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template