Tampilkan postingan dengan label FAITH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FAITH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2018

Seasons of Waiting

0 komentar
There is an old adage that says, "good things come to those who wait." I'd make a slight modification; Good things come to those who wait ACTIVELY. Waiting on God is not an excuse to be lazy in our pursuit of God. If our pursuit of God is contingent upon receiving what we want from Him, then we don't love God. We love our desires more than we love God. If that is how our relationship with God is, then seasons of waiting will quickly turn into seasons of whining. The bedrock of love is trust, and you can trust this - that because God loves you, He will make you wait. In seasons of waiting, there is a lot that God wants you to run towards.

If you want to see crops grow, you don't throw a seed on the soil and just hope it grows, getting angry when nothing happens. But that is often how we wait. You have to till the field, dig up the earth, plant the seed in enough depth, water it, tend to it, and protect it. God will bring the crop, but we have to do the work. The lesson of waiting and having to trust with whole-hearted dependence on God will bring you further than reaping a quick and easy harvest.

Patience and waiting are not the same thing. Waiting is the action of staying where one is or delaying action until a particular time or until something else happens. Patience is the capacity to accept or tolerate delay, trouble, or suffering without getting angry or upset. Waiting is the delay, patience is the tolerance of the delay. Patience is the peace of knowing that God has it and is working in you so that He can work through you. Be patient in waiting.

Your wait may not be about God keeping something from you, but working within you. Wait well. If you wait now, you won't regret later. Wait for God's best and you won't have to settle for anything less. His plans supersede our own. These seasons of waiting are the training grounds of becoming. The only thing more difficult than waiting on God is wishing that you had. The best is yet to come.

Selasa, 04 Februari 2014

Future Holder

0 komentar
Sudah lama rasanya pengen nulis postingan tentang ini. Ketunda mulu dan baru nemu waktu yang tepat di malam yang syahdu ini. So, here i go...

Sebulan ini saya diliputi kekhawatiran soal masa depan. Tentang apa yang bakal saya lakuin di 2015. Buat yang belum tau, setelah lulus dari pendidikan diploma pada tahun 2012 kemaren, saya harus kembali ke kota kelahiran saya untuk mengabdi kepada instansi yang telah menyekolahkan saya di bangku perguruan tinggi. Kuliah saya di support oleh program beasiswa Kementerian Perindustrian. Dan setelah lulus, saya harus menjalani masa kontrak kerja selama 2 tahun. Setelah itu, saya belum tau bagaimana akhirnya karena saya belum sampai di titik akhir. Saat ini saya masih setengah perjalanan. Sejujurnya, saya merasakan sebuah kejenuhan yang maha dahsyat. Saya tidak terlalu tertarik dengan rutinitas kerja seperti ini. Datang jam 8, ngetik-ngetik laporan, turun ke lapangan sesekali, menjadi panitia atau narasumber sebuah pelatihan untuk industri kecil, dan kalau tidak ada kegiatan, hanya menghabiskan satu hari full tanpa rutinitas di Kantor sampai jam 4 sore. Saya merasa tidak berkembang secara skill ataupun knowledge. Saya merasa semakin tumpul. Saya merasa tidak bergairah. I just lost my passion...

Mungkin orang-orang diluar sana menganggap kerjaan saya enak. Dengan tingkat mobilitas yang tidak terlalu tinggi, tapi saya memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup dalam sebulan. Belum lagi tunjangan-tunjangan lainnya dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kantor. Tetapi bukan itu yang saya cari. Saya mencari lingkungan yang bisa menajamkan saya dari segi skill dan pengetahuan. Saya mencari lingkungan kerja yang dipenuhi orang-orang yang dinamis. Fyi, saya adalah pegawai termuda di kantor. Rekan-rekan kerja saya umurnya berkisar 40an keatas. Saya merasa seperti bekerja bersama papa dan mama. Sejauh ini tantangan terbesar yang saya dapat dari kantor adalah ketika saya harus menjadi narasumber utama dalam pelatihan pewarnaan batik (sesuai kompetensi ilmu saya semasa kuliah). Selebihnya, saya terjebak dalam ritme pekerjaan yang sangat membosankan.

Saya mulai iri dengan teman-teman seumuran saya yang di usia mudanya, bisa mengexplore kemampuannya di tempat-tempat kerja yang superWOW. Yang bukan hanya menjual nama besar, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik. Ada yang kerja di Nokia, Samsung, Uniqlo, Kraft, Adidas, YKK Zipper, TransTV, Gagasmedia dan di beberapa Bank Negeri maupun Swasta di Indonesia. Melihat sepak terjang mereka dalam dunia karir yang pertama terlintas di benak saya adalah... "Kog pekerjaan mereka keren-keren banget sih, Tuhan?", dan beberapa pemikiran-pemikiran lain yang membawa saya dalam kondisi mengasihani diri sendiri. Sampai pada suatu malam, ga ada angin ga ada hujan, saya ga bisa berkata apa-apa lagi dalam doa malam saya, hanya tangisan saja yang bisa mewakili isi hati saya malam itu. Bahkan saya hampir menyesali keputusan saya mengapa memilih beasiswa pemerintah itu. Iya, saya sudah dalam keadaan desperate banget saat itu. Yang saya lakukan hanyalah khawatir dan complain. Saya sampai pada suatu titik, meragukan kuasa Tuhan. Tepatnya, mulai tidak percaya lagi terhadap rencanaNya atas hidup saya.

Dalam dua tahun ini, saya tidak diizinkan untuk apply pada perusahaan/instansi apapun karena saya masih terikat kontrak dengan Kementerian Perindustrian. Tetapi pada dasarnya saya bandel, saya pun coba-coba apply sana-sini tanpa sepengetahuan siapapun. Walaupun saya tahu, it's impossible for me to work in another place during two years.. 4 Oktober 2013, saya inget banget ada panggilan interview dari Uniqlo, sebuah perusahaan tekstil terbesar di Jepang yang sudah merambah 16 negara (salah satunya Indonesia). Dan yang bikin surprisenya lagi, panggilan interview ini dikirim langsung melalui nomor telepon dengan kode area Jepang (+81), walaupun lokasi interviewnya tetap di Jakarta. Senang dan galau seketika bercampur jadi satu. Senang karena ternyata jauh-jauuuuh dari Jepang, mereka mau melirik CV saya. Galaunya, karena tepat di tanggal yang sama, saya harus mengikuti sebuah event Asia Pacific Choir Games di Manado. Dan saya pun masuk dalam sebuah pikiran yang logis. Percuma juga kalau saya harus ke Jakarta untuk mengikut interview, toh ga bakalan bisa juga dengan kondisi saya saat ini. Satu lagi impian untuk berkembang lebih baik harus melebur bersama kenyataan hidup. Ck!

Sebenarnya, kalau ditanya mengenai passion saya dalam bekerja, saya lebih mencintai bekerja di media. Entah itu di stasiun TV, radio, majalah, koran, penerbitan, advertising, dll. Dari SMP, passion saya dalam hal ini sudah mulai tumbuh. Menjadi pemred mading sewaktu SMP, menjadi pemred sebuah buletin semasa SMA, dan aktif dalam mengisi artikel-artikel dalam beberapa surat kabar/majalah lokal. Tetapi passion saya tidak mendapatkan tempat terbaiknya ketika saya mengakhiri bangku SMA. Cita-cita untuk menjadi mahasiswi komunikasi harus terkubur rapat-rapat karena saya ingin meringankan beban ortu, jadinya nyari tempat kuliah yang bisa dapet beasiwa full + uang hidup. Dan berkat anugerahNya, dapetlah beasiswa full + biaya hidup + biaya buku + biaya transport PP setahun sekali dari Bandung ke daerah asal. Iya, hanya Kementerian Perindustrian memang yang bisa semurah hati itu. Tetapi sebaik apapun fasilitas yang kampus tawarkan, apalah artinya kalau kita tidak mencintai apa yang kita lakukan. Saya harus survive selama kurang lebih 3 tahun untuk berhadapan dengan hal-hal berbau kimia dan tekstil. Sebuah hal yang tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahkan semasa SMA, saya pernah beberapa kali kabur ketika mata pelajaran Kimia. :))

Kerinduan saya saat lulus SMA hanya satu. Saya mau kuliah di luar Palu yang tidak memberatkan ortu dalam hal finansial. Dengan tekad itu pula yang mengantar saya sampai di tempat yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Dan inilah saya saat ini, sedang menjalani masa kontrak yang sisa setahun lagi.

Sejujurnya saya blank dengan apa yang bakal saya kerjakan setelah ini. Saya merasa hopeless. Saya merasa khawatir sekali dengan apa yang orang-orang sebut "masa depan". Padahal, tanpa saya bertanya pun sebenarnya Dia sudah jelas mengatakan kalau rancangan-rancanganNya dalam hidup saya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Tetapi saya lebih mengizinkan kekhwatiran pegang kendali atas hidup saya saat ini. Akibatnya, hidup saya dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Bukan itu saja, saya mulai menyalahkan diri saya akan apapun yang saya alami. Saya merasa sangat jauuuuuuuuh dengan kondisi damai sejahtera.

Saya diingatkan kembali akan janjiNya melalui nubuatan seorang Pastor di Gereja saya ketika masih di Bandung, beliau mengatakan, "jangan takut untuk apa yang akan kamu hadapi di depan, kamu akan dipakai menjadi besar di tempat dimana kamu akan pergi.." JENGJENG! Padahal saya ga pernah ngasih tau sebelumnya kalau saya akan meninggalkan Bandung dalam waktu dekat. Tetapi dengan ajaibnya Tuhan memakai Pastor itu untuk meneguhkan saya. Dan itu terbukti, baru beberapa bulan kembali di Palu, Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi seorang youth leader di Gereja lokal saya. Walaupun banyak pergumulan yang saya hadapi dalam memimpin di komunitas ini, tapi kasih sayang Tuhan terus berlaku dalam "menangkap" saya untuk tidak lari meninggalkan komunitas ini.

Sampai akhirnya saya merenung...
Aphro, dimana kamu taruh iman kamu? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, why still worry? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa bandingin masa depan kamu dengan kisah orang lain? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa kamu takut? 
Kenapa?
Karena simply, saya lebih menaruh iman kepada yang kelihatan daripada yang gak kelihatan. Which is itu berarti bukan iman. Dan untungnya Tuhan masih terlalu amat sabar sama saya. Then i know i have a faithful God. Ya, sekarang memang saya belum melihat apapun yang akan terjadi didepannya, saya belum melihat pintu-pintu lain yang akan terbuka untuk saya, saya belum tahu apa yang bakal saya lakuin, i don't understand His plan for me nowadays, i don't know what His will. But one thing i know for sure... Even when i don't understand His plan for me, i know He is with me.
 
You don't have to be worry, you don't have to be afraid, because I AM WITH YOU, says the Lord. 
 
Di depan memang saya gak tau akan seperti apa, gak tau apa yang akan terjadi, gak tau harus bagaimana dalam menghadapi apa, but i know, Tuhan ada di depan sana, He has prepared great things for me, He has greater plan than i have for myself.
 
And 'til the doors are opened, i'm gonna still praise Him in the hallway. Because i know, Who's My Future Holder.

Rabu, 18 Desember 2013

Bereaksi Benar Dalam Tekanan

0 komentar
Hidup kita tidak terlepas dari tekanan dan proses kehidupan. Mungkin saja kita akan mengalami banyak ketidakwajaran dalam hidup kita, masalah, dan tantangan. Yang seharusnya menjadi fokus kita bukanlah tekanan hidup kita, tapi bagaimana kita bisa bereaksi dengan benar dalam menghadapi tekanan dan proses..

Habakuk 3:2
TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!

Habakuk 3:17-19
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

Dari 3 ayat jelas Habakuk sedang mengalami ketidakwajaran, kondisi-kondisi di atas tidaklah wajar terjadi dalam masa itu, tapi kita liat reaksi Habakuk, ia berkata bahwa ia tetap bersorak-sorak dan beria-ria dalam Tuhan di tengah ketidakwajaran yang terjadi. Ia mengatakan bahwa Tuhan membuat kakinya seperti rusa yang berjejak di bukit. Kalo kalian tau, hanya rusa-rusa unggul yang bisa naik sampai ke atas bukit. Ada beberapa prinsip untuk kita supaya kita bisa bereaksi benar dalam tekanan/proses.

1. Tetap meyakini bahwa Tuhan adalah TUHAN
Di tengah beratnya tekanan yang kita hadapi kita harus tetap meyakini bahwa Dia adalah Tuhan. Jangan pernah meragukan kemahakuasaan Tuhan.  Meskipun kondisi tidak wajar, tapi kita harus tetap beria-ria dalam Tuhan karena melalui proses yang kita hadapi, Tuhan akan membuat kita menjadi pribadi yang unggul. Kita harus tetap percaya bahwa ditengah ketidakwajaran, Tuhan menyelamatkan. Di tengah ketidakwajaran Tuhan yang memberi kekuatan, dan di tengah ketidakwajaran, Tuhan buat kita jadi orang unggul. (2 Samuel 22:34-37)

2. Berani Hadapi Tantangan
Dalam Yohanes 18:1-11, kita bisa melihat bahwa Tuhan kita, Tuhan Yesus adalah pribadi yang BERANI, Ia tidak pengecut. Waktu pasukan datang dan bertanya, “Siapa Yesus?” Tuhan Yesus dengan lantang menjawab, “AKULAH DIA”. Ini menunjukkan bahwa DIA adalah pribadi yang BERANI. Ada 3 statement yang Tuhan katakan, “Aku harus minum cawan dari Bapa”, “Siapa main pedang, akan dibalas dengan pedang”, “Tidak taukah kamu bahwa Aku bisa memanggil 12 pasukan malaikat?”. Tuhan Yesus mempunyai fasilitas untuk menyelamatkan-Nya saat itu. Tapi Tuhan Yesus tidak menggunakan fasilitas-fasilitas itu, Dia tau bahwa akan ada sebuah proses sulit yang harus Ia hadapi, tapi Dia tetap berani menghadapi proses yang ada.

Orang yang berani menghadapi tantangan pasti menerima kekuatan baru untuk menghadapi tantangan selanjutnya. Contoh selanjutnya adalah, kisah Daniel. Kita semua tau bahwa karena Daniel tetap berdoa kepada Tuhan dan tidak menyembah raja, Daniel mendapat hukuman yaitu masuk gua singa. Daniel tidak takut! Ia tetap menghadapi proses itu, dan kita lihat hasilnya, Tuhan menyelamatkan Daniel dari terkaman singa-singa.

3. Temukan Inti Pembelajaran
Ayub 23:10-12
"Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya."

Ayub mendapatkan proses yang tidak mudah. Dalam 1 hari, anak-anaknya meninggal, harta bendanya habis, sahabat meninggalkan dia, istri yang tidak mendukung, dan penyakit kulit. Di tengah proses hidup yang berat itu, Ayub bereaksi benar. Dia tidak mengutuki dan meninggalkan Tuhan, dan Ayub mendapat hasil dari reaksi-nya itu yaitu pengenalan akan Tuhan.

Saat kita mendapat proses, kita harus bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau mau dari proses ini? Tuhan mo aku lebih sabar-kah? Lebih murah hati-kah?” Kita harus menemukan inti pembelajaran dari setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi atas hidup kita.

Ayoo kita semua sama-sama belajar untuk punya reaksi yang benar dalam setiap tekanan dan proses hidup kita. Percaya bahwa setiap tekanan dan proses diizinkan Tuhan terjadi untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih unggul. Tetaplah meyakini bahwa Dia adalah TUHAN, berani hadapi tantangan, dan temukan inti pembelajaran dari setiap proses yang ada.

Yang (Kadang) Terlupakan

0 komentar
Pernah denger kan cerita tentang Maria dan Martha? Pasti udah nggak asing lagi deh dengan cerita itu.
Kalo masih agak-agak lupa nih saya kasih perikopnya : 
(Lukas 10:38-42)
10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Well, beberapa waktu belakangan ini, mungkin sekitar setahun terakhir ya, kayanya banyak banget hal yang harus diurusin baik di kantor maupun di Gereja. Kalo di kantor ritme kerjanya lumayan bisa diatur lah, tetapi untuk porsi bolak-balik rumah-gereja kayanya ga ada habis-habisnya dalam seminggu. Ada-ada aja urusan youth yang harus dikerjain. Rapat, latihan, ngelaksanain proker, visitasi, urus ini, itu, dan... Kog rasa-rasanya repot banget sama hal yang sering disebut "pelayanan" itu. Tiap mo pamit sama papa mama, "Ma.. Pa.. pergi dulu yaa.. Ada pelayanan di sana." It sounds so religious maybe but deep inside i felt soooooooo tired. Dan ini semua berimbas ke jam saat teduh dan jam-jam doa. Pulang dari aktifitas seharian rasanya udah pengen langsung tidur aja, i lost my passion when i pray. Rasa-rasanya gairah untuk bercakap-cakap dengan Dia udh sangaaaat memudar. Hanya sebatas doa, "Terimakasih Tuhan buat hari ini, saya mo tidur, jagai saya, blablabla..", sampai saya mikir, ini doa atau laporan sebenarnya.. Imbasnya saya jadi gampang unmood, unstable, dan tiap ada waktu kosong sedikitpun pasti saya pakai untuk hura-hura, maen kesana dan kesini, dan mencari pelampiasan di tempat lain yang bisa mengurangi segala keletihan saya dengan "pelayanan" ini.

Back to cerita Martha dan Maria, akhirnya saya sadar bahwa saya sudah menjadi Martha yang sangat sibuk urus ini, urus itu. Keliatannya sih bagus yaa tapi saya tidak sadar bahwa saya sudah melupakan bagian terbaik saya yaitu: duduk diam di kaki Tuhan, bangun hubungan intim sama Tuhan. 
Indikator paling jelasnya adalah jam saat teduh dan jam doa saya berantakan, saya gak lagi menyediakan tapi jadi menyisakan waktu untuk Tuhan. Oh God, forgive me! 
Berkali-kali ketika saya baca cerita Martha dan Maria, saya selalu bingung, kenapa sih kog seolah-olah Tuhan lebih membenarkan Maria. Emang salah ya kalo Martha sibuk melayani? Kalo nggak ada orang-orang yang mo sibuk di pelayanan, mana bisa? Nah setelah saya mengalami keletihan rohani ini, saya akhirnya paham. Bukannya kita tidak boleh melayani, bukannya nggak boleh sibuk, tapi kita harus tau waktu-waktu dimana kita harus sibuk, dimana kita hanya harus duduk diam di kaki Tuhan, dengerin Tuhan ngomong apa. 
Dalam pelayanan juga gitu, ada kalanya kita bekerja, dalam arti urusin acara ini dan itu di Gereja, bikin program ini dan itu tapi ingat kita nggak boleh melupakan bagian yang terbaik yaitu build intimacy with God. Kenapa Tuhan bilang bahwa Maria memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya? Karena pelayanan kita, kesibukan kita, itu bisa hilang dan diambil begitu saja. Yaa that's true. Saat ini mungkin kita jadi ketua youth, jadi ketua ini dan itu, tapi sampai kapan sih? Nggak mungkin kan seumur hidup kita jadi ketua youth? Tapi yang namanya hubungan pribadi sama Tuhan, intimacy itu nggak akan ada yang bisa ambil dari hidup kita. Sifatnya private, antara kita dan Tuhan! =) 
Yuk kita belajar untuk mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan lebih dari apapun, lebih dari kesibukan pelayanan kita. 
Program-program yang kita rancang di Gereja, itu seharusnya lahir dari pewahyuan yang Tuhan berikan lewat hubungan pribadi kita dengan Tuhan bukan hanya dengan akal manusia. 
and..
the best place in the world is in the Presence of God..

Kamis, 16 Mei 2013

Hadapi Penina-mu!

0 komentar
Waktu masih di Sekolah Minggu, saya sering mendengar cerita tentang lahirnya Samuel. Yang teringat jelas dari cerita ini adalah seorang Hana yang mandul dan berdoa mati-matian untuk mendapatkan anak sampe disangka sedang mabuk sama Imam Eli (1 Sam 1:13). Suami Hana bernama Elkana, dan selain Hana, Elkana juga mempunyai seorang istri lagi yang bernama Penina. Lucky her, Penina telah mendapatkan anak dari hasil pernikahannya dengan Elkana. Hal inilah yang membuat Hana bersedih hati. Udah harus berbagi cinta (walaupun kenyataannya Elkana sangat mencintai Hana), eh tetap aja ga mempunyai buah cinta..

Setiap mendengar cerita ini, biasanya kita fokus pada Hana. Bagaimana kesetiaan Hana berdoa untuk mendapatkan anak yang diberi nama Samuel. Dia berdoa tidak jemu-jemu dan bernazar kepada Tuhan, bahwa jikalau Tuhan memberikannya anak, Hana akan menyerahkan anaknya untuk dipakai di Rumah Tuhan.

Tetapi, ada satu hal yang tersirat jelas dan menjadi rhema bagi saya melalui cerita ini. Dibalik kesetiaan Hana berdoa terus-terusan untuk mendapatkan anak, ada Penina disana. Penina yang selalu membuatnya gusar dan tertekan untuk merebut perhatian Elkana karena dia telah mempunyai anak. The point is... Dalam kehidupan yang kita jalani, sadar atau tidak sadar, Tuhan menaruh "Penina-penina yang lain" disekelilingmu untuk menguji kesetiaanMu. Mereka adalah orang yang meng-underestimate-mu, yang meragukan kemampuanmu, yang selalu mencemooh tiap apa yang kau lakukan, yang selalu mendesakmu, dan mereka yang membuatmu goyah terhadap keyakinanmu atas kedaulatan Allah yang kau sembah.

"KAPAN LULUS?"
"KAPAN NYUSUL?"
"KOG PEKERJAANNYA HANYA SEGITU DOANG SIH?"
"AH GAGAL MULU, LO. KAPAN BISANYA SIH?"
"SEGITU DOANG BANGGA!"

Mungkin kita sering mendengar pertanyaan atau pernyataan semacam itu disekeliling kita. Tapi mari kita melihat respon Hana ketika menghadapi Penina. Hal pertama yang dia lakukan adalah menangis dan tidak mau makan (1 Sam 1:7), ternyata bentuk merajuk seperti ini sudah ada dari zaman dahulu ya, bukan di sinetron aja :'))) -- Tetapi dengan hati yang tersedu-sedu itulah yang membuat dia datang berlutut dihadapan Tuhan membawa setiap apa yang menjadi kerinduan hatinya. Ketika dia terdesak, dia tidak menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk menangis dan galau seharian, tidak ada yang salah dengan menangis, tetapi respon setelahnya, apakah kita menjadi semakin terpuruk atau membawa semuanya dihadapan Tuhan.

Dan Allah yang kita sembah adalah Allah yang menguji hati. Kita lihat selama apa penantian Hana untuk terus berdoa kepada Allah? 1 Sam 1:20 mengatakan, "Maka setahun kemudian mengandunglah Hana..." GILAAAAK! 1 Tahun menn.. itu bukan waktu yang singkat loh, mengingat manusia selalu menginginkan hal-hal yang serba instant, ketika berdoa seminggu aja dan belum kelihatan ada perubahan, kita acapkali menuding Tuhan tidak buka jalan, padahal ada proses yang Allah inginkan untuk kita lewati. Proses-proses yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan. Proses yang akan membentuk kita menjadi semakin kuat.

Jadi, apapun dan siapapun Penina yang ada disekitarmu sekarang, HADAPI ITU!
Jangan kabur, jangan tertekan, jangan menyalahkan keadaan. Make your point clear to God The Giver. Don't afraid to ask. ASK! Those who receives are the one who asks before.

Mari kita bersama-sama menguatkan dan meneguhkan hati untuk menghadapi "Si Penina" itu. Dan lihat, setelah cucuran air mata Hana diawal kesusahan hatinya, ada sorak-sorai sukacita yang melengkapi kebahagiaannya atas Samuel. Dibalik setiap duka yang sedang dan pernah kau alami, ada HASIL terbaik yang menantimu di akhir. Tuhan yang memberikan Samuel untuk Hana yang setia berdoa, Tuhan yang sama yang akan memberikan apa yang kau butuhkan saat ini. Have faith, God knows what He is doing.


-aphro-

Rabu, 27 Maret 2013

Sudah Selesai.

0 komentar
Waktu SD, di pelajaran agama, saya dan teman-teman kerapkali disuruh menghafal 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib. Sepaket dengan menghafal Doa Bapa Kami dan 10 Hukum Taurat. Tetapi namanya anak SD, itu semua hanya berakhir sebagai hafalan saja tanpa mengerti dengan benar makna dari itu semua. Days by days, segala pengertian demi pengertian akan itu semua pun mulai dibukakan. Banyak hal yang, "Gila, JLEB banget!", "Aaah, sweet banget sih Tuhan", dan tak sedikit berakhir dengan, "Lord, forgive me.."
Ya, segala tulisan yang diilhamkan kepada kita memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik kita dalam kebenaran.:')

Hari ini, di minggu-minggu sengsara, dimana umat Kristen di seluruh dunia akan memperingati kematian Isa Almasih di Kayu Salib, membawa perenungan sendiri bagi saya. Ini bukan semacam ritual tahunan yang hanya berlalu dengan bangun pagi, berdoa, ke Gereja, Perjamuan Kudus dan pulang. Bukan, saya bukan anak kelas 3 SD lagi yang hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan Guru Agama dan Orang Tua. Ada tanggung jawab yang saya pikul memaknai karya penyelamatanNya. Dan tanggung jawab ini bukanlah sebuah hal yang memberatkan saya, karena saya tau ada sukacita yang besar ketika saya hidup dan melakukan apa yang Dia kehendaki.

Berbicara tentang karya penyelamatan yang Dia lakukan, yang bisa saya lakukan hanya speechless..
He's too good to be true! But yes, He's so truuuuuuuue because His goodness is unlimited.
Menyinggung apa yang sempat saya tulis di awal postingan ini mengenai 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib, ini bukan hanya sekedar perkataan tanpa makna. Ini adalah pernyataan, janji, dan pengharapan.

UCAPAN PENGAMPUNAN
1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat"

UCAPAN KESELAMATAN
2. "Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus"

UCAPAN KASIH
3. "Ibu, inilah anakMu." "Inilah Ibu-mu"

UCAPAN PENDERITAAN ROHANI
4. "Eli, eli, lama sabakhtani? -- Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

UCAPAN PENDERITAAN JASMANI
5. "Aku haus.."

UCAPAN KEMENANGAN
6. "Sudah selesai."

UCAPAN PENYERAHAN
7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, ku serahkan nyawa-Ku"

Dari ketujuh perkataan yang Tuhan Yesus ucapkan di kayu salib ada satu yang-dulunya-paling-cepat-saya-hafalkan. "Sudah Selesai". Entah kenapa saya begitu menyenangi pernyataan ini. Ketika menonton film "The Passion of The Christ" dan di scene Tuhan Yesus mengatakan kalimat ini, seperti ada kelegaan tersendiri yang saya rasakan. Seperti ucapan yang menenangkan kalau "everythings gonna be alright, keep calm dear aphro.." -- SUDAH SELESAI. Mengapa Dia mengatakan itu kepada kita? Karena Dia ingin kita mengetahui bahwa segala sakit penyakit kita sudah Dia SELESAIKAN di atas Kayu Salib. Segala kekuatiran kita akan masa depan, segala ketakutan kita akan persoalan hidup, segala pergumulan yang tumpang tindih, segala ketidakpastian akan banyak hal, SEMUANYA SUDAH DIA SELESAIKAN. Bagian kita saat ini adalah menerima Kemenangan yang sesungguhnya. Banyak diantara kita yang protes karena hidup yang kita jalani masih gitu-gitu aja, ga ada hal-hal bombastis seperti kebanyakan orang, hey.. look at the Cross, dear! Semuanya sudah Dia selesaikan dengan SEMPURNA! Ketika kamu kehilangan pengharapan, just look at the Cross. Kalo ada hal-hal yang masih carut-marut saat ini, fix it with His Grace. Let's receive His victory!



Blessings,
-aphro-

Kamis, 14 Februari 2013

Our job is to be faithful; His job is to accomplish results.

0 komentar




taken from: http://heckyeahjesussaves.tumblr.com/

Senin, 28 Januari 2013

which one you feed?

0 komentar






taken from tumblr. and yes, "you are what you think" :)

Jumat, 23 November 2012

"Maju aja dulu!"

0 komentar
Belakangan ini, hampir semua mall-mall yang ada di kota-kota besar sudah menggunakan pintu otomatis. Itu loh, pintu yang otomatis kebuka kalo kita mendekat kearahnya. Pasti udah pada tau kan? Nah, saya dapat analogi yang bagus ketika kemaren saya ke Ciwalk dan melewati pintu ini. Sebenarnya udah sering banget saya ketemu pintu model beginian, tapi baru kemaren saya menyadari sesuatu yang tersirat dari pintu ini.

Sering banget saya berdoa biar Tuhan "buka pintu" dalam apapun yang saya hadapi. Misalnya, berdoa pas mo kunjungan ke anak PA biar Tuhan buka pintu hati mereka, berdoa biar Tuhan bukakan pintu-pintu pekerjaan yang saya pengen, berdoa supaya pintu hati ibu kosan terbuka buat nurunin uang kosan, HAHA!

Dari "pintu otomatis" tersebut, saya belajar kalo yang sebenarnya Tuhan mo lihat dari hidup saya itu bukan  hanya doa dan permohonan supaya "pintu-pintu" itu terbuka, karena Dia bisa kapan saja membuka semua "pintu" itu. Yang Dia mo lihat ialah LANGKAH IMAN saya. Saya maju, atau hanya diam ditempat nungguin itu semua datang. Seperti "pintu otomatis" itu, dia terbuka ketika ada orang yang berjalan mendekat kearahnya. Begitu juga dengan semua hal-hal yang menurut kita selama ini buntu dan ga ada jalan keluar. Sebenarnya ketika kita memutuskan untuk melangkah, ada iman yang kita genggam disitu, dan segala sesuatunya pasti terbuka. Saya terlalu percaya kalo kemana Dia mau bawa kita pergi, disitu berkatNya akan mengikuti. So, jangan nunggu lama-lama. "MAJU AJA DULU!" :')

Take a step of Faith, then the next step will be provided.

Jumat, 09 November 2012

walk with HIM.

0 komentar
Sering sekali saya berkata, "wah, minggu depan kayanya bakalan sibuk banget deh", "duh, udah kebayang capenya", "bisa di skip ga ya besok", "another hectic day/week/month" dan sepenggal-sepenggal kalimat yang menyatakan ketidakmampuan saya. Seperti udah nyerah di awal. Tepatnya, "too much compliment".

Padahal saya tau banget ada yang lagi ketawa-ketawa dari atas sana ketika mendengar segala keluhan saya. Pasti Dia sudah berkata, "kamu sih ga ngandalin Saya, Kita berdua tim loh.." Yah, disini saya tersadar kalo perjalanan hidup saya itu bukan perjalanan sendirian. Mungkin saya bisa beralibi, "Liat aja jejak kaki itu, hanya sepasang kan, itu terbukti kalo selama ini saya hanya jalan sendirian.." Tetapi lagi-lagi dengan kasihNya DIA menjawab, "Hey, siapa bilang kalo SAYA ga nemenin kamu? Jejak kaki yang kamu lihat sepasang itu sesungguhnya jejak kaki-Ku, karena kamu ada dalam gendongan-Ku"

*sampai disini saya speechless*

Days by days.
Weeks by weeks.
Months by months.
Year by years.

Melalui perjalanan hidup saya, saya sadar, bahwa Tuhan selalu menggendong saya. Melewati tawa, tangis, hujan, bahkan badai. Kalaupun saya jatuh, saya tidak akan sampai tergeletak. Kalaupun  masalah saya begitu berat dan tidak terselesaikan, setidaknya saya tidak sendiri. Ada Pribadi yang mau menangis bersama saya, tertawa bersama saya, berjalan, bahkan melompat bersama saya. Hari-hari saya begitu indah, karena saya berada dalam dekapan yang tepat.

"t'lah kulihat kebaikanMu, yang tak pernah habis dihidupku.. ku berjuang sampai akhirnya, KAU dapati aku tetap setia.."

"...Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemanapun engkau pergi."
-Yosua 1:9 -

Rabu, 31 Oktober 2012

if life is a soccer...

0 komentar
If life is a soccer, there are people who choose to be a commentator. They won't run, tired & sweat. But the trophy will never belong to them.

If life is a soccer, can you imagine if the player keep on busy arguing everytime the commentator talk about them?

Actually, do the player heard all that the commentator said? I dunno, could be, but I think they're busy on focusing to make a goals. Right?

If life is a soccer, some of my friend won't be a player, too afraid to lose, but too ignorant to be a commentator. So they wish to be a court.

If life is a soccer, imagine all the angels and an elders as the supporter, and God is your couch. Isn't it amazing? You won't lose. :')

If life is a soccer, now we're in injury time and God waiting for us to make a golden goal. At this situation, are you sure want to quit?

Keep play your best, and make a golden goal. He watch you, and He knows you can do your part :')




doa deskriptif dan cerita tentang pintu-pintu

0 komentar
"Coba deskripsikan Aku."

"Ngg..."

***

yang langsung teringat:
Engkau itu sabar!
dan setia

dan lucu, haha
sama sekali tidak membosankan ketika bersama-Mu, Tuhan
Kau sering sekali memberi kejutan

baik
tidak pernah ngomong kebanyakan
selalu memberi bukti
kasih-Mu konkret sekali

tapi begitu Kau bicara
tepat sasaran, singkat
dan datang pada detik yang tepat

Kau keren dan pintar
tapi entah kenapa tidak mengintimidasi
nyaman bersama-Mu
senang mendengar cerita-cerita-Mu

lalu ada saat-saat kemegahan-Mu terasa jelas
dan kami cuma bisa sembah sujud
Kau Maha Kuasa
tapi benar-benar rendah hati
kan kami yang membutuhkan-Mu, yang bakalan mati tanpa-Mu
tapi malah Kau yang lebih merindukan, memperjuangkan, dan mengejar kami

terus, kalau aku berbuat kesalahan
Kau jauh lebih fokus pada keadaanku
ketimbang pada kesedihan-Mu

kasih-Mu tidak tanggung-tanggung, Tuhan
semua Kau relakan
waktu Kau bilang, "Aku mengasihimu"
tidak seperti aku, Kau mengerti benar arti kalimat itu

Kau ada, Tuhan
selaluuu ada bagiku.

"kasih setia-Mu yang kurasakan
lebih tinggi dari langit biru
kebaikan-Mu yang telah Kau nyatakan
lebih dalam dari lautan

siapakah aku ini, Tuhan?
jadi biji mata-Mu?

dengan apa kan kubalas, Tuhan?
selain puji dan sembah Kau"

terima kasih, Tuhan!
terima kasih untuk salib-Mu, Tuhan.


***

Aku berjalan dari pintu ke pintu
senang sekali kalau melihat ada yang terbuka!

ada banyak jenis pintu:

ada yang besar, megah, dan tertutup
memandang-Ku dingin ketika diketuk

ada yang kecil dan lapuk
Aku mengetuk untuk memberi makan
tapi tidak dibukakan juga

ada yang terbuka sedikit
tapi ketika Aku mau masuk
ternyata masih dirantai

ada orang yang berdiri di balik pintunya dengan takut-takut
ia membukakan semakin lebar ketika Aku mengajaknya bicara

kalau ada pintu yang terbuka lebar-lebar
langsunglah Aku masuk dengan senang

yang paling aneh, tentunya, beberapa pintu yang kutemukan itu:

di depannya ada keset bertuliskan "welcome Jesus"
pintunya penuh dengan hiasan Natal
ornamen salib dan malaikat-malaikat
dan tulisan-tulisan penyambutan

tapi ketika Kuketuk tidak ada jawaban
Aku mau masuktapi pintu-pintu itu benar-benar terkunci...

***

"Barangsiapa Kukasihi,
ia Kutegor dan Kuhajar;
sebab itu relakan hatimu dan bertobatlah!

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok;
jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu,
Aku akan masuk mendapatkannya
dan Aku makan bersama-sama dengan dia,
dan ia bersama-sama dengan Aku."

Wahyu 3:19-20

Tulisan ini gue baca di notes facebook salah satu temen gue, Gavrila Ramona Menayang, and it's really worthed to shared. Hope you blessed :')

Kamis, 25 Oktober 2012

Tiang awan & Tiang api

0 komentar
TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. (Kel 13:21)

Mungkin waktu sekolah minggu kita sering banget denger cerita ini. Bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir dan berjalan menuju tanah yang TUHAN janjikan. Saat itu ga ada kompas, belum ada papan penunjuk jalan, atau bahkan untuk menemukan orang yang bisa ditanyai pun ga ada. Belum ada satupun dari mereka yang sudah pernah kesana. Dan sekedar mengingatkan, rombongan ini bukan 5 orang, atau 10 orang, atau 50 orang. Ribuan, bahkan lebih! Ga kebayang gimana cara kordinasi dengan jumlah orang sebanyak itu.

Siapa bilang sepanjang perjalanan dilalui dengan nyanyian sukacita? Tak sedikit dari mereka yang ngeluh, complain sama Musa, dan menganggap Musa PHP (meminjam istilah ke-kini-an :p). Ditengah keresahan bangsa Israel akan tujuan yang belum jelas ini, dengan murah hatiNya, Tuhan ngasih tiang awan dan tiang api sebagai penunjuk jalan. Tiang awan di siang hari untuk menuntun mereka, dan tiang api di malam hari untuk menerangi jalan mereka.

Ada beberapa hal yang me-rhema dalam hidup gue ketika membaca, mendengar, dan merenungkan tiang awan dan tiang api ini.

1. Tiang awan dan tiang api menuntun bangsa Israel ke tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Tiang itu selalu ada didepan mereka. Ada masa-masa dimana tiang itu diam dan tidak bergerak. 
Seperti yang Dia perintahkan, kalau tiang itu diam, itu tandanya mereka harus beristirahat dan mendirikan kemah. Begitu juga dengan hidup kita. Ga ada satupun manusia yang bisa menebak alur hidupnya kaya gimana. Ga ada yang tau kapan dia lahir, jatuh cinta, kehilangan, dan kapan dia harus meninggalkan dunia ini. Trus dimana tiang api dan tiang awan itu sekarang? Hey, don't you realize? TUHAN sendiri yang jadi tiang tersebut untuk hari-hari kita kedepan. So, kita ga perlu takut bakal nyasar atau ga nyampe ke panggilan akhir hidup kita, karna DIA bukan hanya ALLAH yang memulai, tetapi juga MENYELESAIKAN. Kuncinya satu aja, tetap stay tune lewat SaTE dan jam-jam doa pribadimu.☺

2. Tiang awan dan tiang api itu bukti nyata kalo ALLAH hadir. Bangsa Israel suka nuntut ke Musa nanyain keberadaan Allah dimana sepanjang perjalanan mereka. Padahal keberadaan tiang itu udah bukti nyata banget kalo Dia juga ikut berjalan bersama mereka. Nah, ini yang biasanya terjadi dalam hidup kita. Tiap ada masalah malah nyalahin Tuhan. "Tuhan ga pernah peduli sama hidup gue!" "Kalo Tuhan itu baik, kog gue gini-gini aja ya hidupnya?" dan sejuta pertanyaan-pertanyaan lain yang meragukan keberadaan Dia yang notabene selalu disamping kita. *sampai disini gue ketampar..*

3. Tiang awan dan tiang api itu benteng perlindungan. "Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu" (Kel 14:19-20). Jelas banget kan dalam ayat itu nunjukin kalo orang-orang yang berada dibawah tiang tersebut adalah orang-orang yang terproteksi. WOW, KEREN BANGET YA BABEH KITA! Ya, Penjaga Israel tidak pernah tertidur. Ia berperang untuk saya, kamu, dan kita semua. Sekalipun kita tertidur, DIA ga pernah tertidur. Karena DIA pengen banget ngeyakinin kita kalo GA ADA TEMPAT TERAMAN DAN TERNYAMAN SELAIN DALAM HADIRATNYA. ♥

Well, i hope this post will strengthen your days. Blessings! ☺



 

aphrodityasherlisa Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template