Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Februari 2014

Perihal Keterlambatan

0 komentar
Hello!
semoga surat ini tidak datang terlambat, cukup saya, sang pengirim surat yang datangnya terlambat. Lucu ya, dalam beberapa hal aku dikenal sebagai sosok yang ontime. Di lingkungan tempat kita bersinggungan pun, aku dikenal sebagai sosok yang selalu menomorsatukan kedisiplinan waktu. Tapi entah mengapa, perihal hati, yang sejatinya lebih krusial, aku datang terlambat. Dan bilik di hatimu yang mengisyaratkan sudah terisi, aku menyadari keterlambatan itu.

Salahku, yang tetap bersikukuh untuk mengetuk?
Atau salahmu, yang tanpa pikir panjang membukakan pintu itu?
Kamu membawa aku ke tempat yang sudah berpenghuni dan membiasakan aku untuk tinggal di tempat yang sedang ditinggali. Sejauh yang aku lihat, penghuni lama masih sangat betah untuk tinggal disitu. Tidak ada tanda-tanda untuk pergi meninggalkan. Wajar saja, tempat ini menawarkan begitu banyak kenyamanan. Aku buktinya. Belum berapa lama aku sudah sangat menikmati tempat ini. Kalo kata orang-orang, '"too good to leave". Ya, dengan sekejap mata ini mampu menyingkirkan semua tempat-tempat favorite yang pernah ku kunjungi.

Hebat ya kamu, mampu membuat orang yang dikenal sangat ontime mulai belajar kompromi dengan keterlambatannya.
Hebat ya kamu, mampu membuat sosok yang sangat egois mau belajar untuk berbagi tempat dan tidak serakah.

Hmm..
Sampai disini aku tersadar. Bukan kamu yang hebat. Aku saja yang terlalu naif untuk menerima semua hal itu. Tetapi, satu hal yang harus kamu tahu, ini bukan perihal terlalu naif, kamu pernah dengar sesuatu yang disebut cinta? Mungkin itu namanya. Benar apa kata orang-orang, "Level tertinggi bullshit adalah merelakan orang yang kamu cintai bahagia bersama orang lain".

Maybe, it's time to walk away from you? Let me.. :')




Jumat, 07 Februari 2014

Malaikat Juga Tahu

0 komentar
Kepadaku kau sekeras batu,
Kepadanya hangatmu bak mentari senja.

Kepadaku kau salahkan semua tuturku,
Kepadanya kau bela tiap perkataanya.

Di diriku kau torehkan luka dan pilu,
Di dirinya kau ukirkan gelak tawa.

Didiriku kau limpahkan seluruh masalahmu,
Didirinya kau habiskan bahagia.

Aku harap kamu tidak lupa dengan senandung manis dari Dee Lestari yang sudah setahun ini menjadi ringtone di handphone-ku. Iya, aku harap kamu tidak lupa, bahwa malaikat juga tahu siapa yang akan menjadi juara. Juara dalam hal "walaupun" dan bukan "karena" perihal mencintaimu. Dan ketika tiba masanya, aku harap kamu sadar, bahwa kamu bukanlah juri untuk hal ini. Jangankan malaikat, semesta pun pasti akan berada di pihak-ku untuk ini. Try me! :p

Kamis, 06 Februari 2014

ada yang tahu dimana alamatmu?

0 komentar
selamat sore sayang,
apa kabarmu disana?
ah, betapa kamu hebat membuat seseorang jatuh dalam rindu.
rasanya ingin cepat-cepat aku bertemu.
sayang, aku rindu...

tapi sayang,
berapa banyak lagi surat yang harus aku kirim padamu?
karena tidak satupun tukang pos yang tau tempatmu.
padahal sudah besar-besar kucetak di ujung amplop dimana alamatmu.

sayang,
memang begitu susahnya ya jalan menuju surga?

Selasa, 04 Februari 2014

Kita dan Trampolin

0 komentar
Hai!

Anggap saja ini sebuah penghubung atas sapa yang tidak terlisankan di hari pertama kita bertemu setelah 8 tahun tidak bersua. Aku terlalu gengsi untuk sekedar mencuri-curi tatap. Aku terlalu gengsi untuk mengirim sebuah lengkungan manis bernama senyum. Aku terlalu gengsi untuk mengumbar sebuah, "Hai, apakabar?". Perihal pertemuan tidak disengaja itu, aku sepatutnya menyalahkanmu. Mengapa datang untuk mencipta debar kembali? Apakah semesta turut ambil andil dalam pertemuan tidak disengaja ini?

8 tahun. Cukup lama untuk mencipta sebuah kejutan ketika aku menatapmu. Rambut ikal yang semakin panjang tak beraturan yang membuatmu terlihat semakin gagah, jambang tipis-tipis yang semakin menonjolkan sisi maskulinmu, dan gitar yang dahulu sering berada di tangan kananmu kini berganti menjadi sebuah kamera DSLR. Iya, penampilanmu saat ini sangat mewakili kecintaanmu pada dunia barumu; Fotografi.

Ada satu hal yang lupa aku tanyakan. Bagaimana nasib trampolin milik kita dibelakang rumahmu? Ummh, maaf.. Mungkin tidak sepatutnya aku menyebutkan kata "kita". Tetapi sejauh yang aku ketahui, kita pernah berjanji untuk tidak mengajak orang lain untuk naik ke trampolin itu. Emmh, maaf.. lagi-lagi aku harus menyebut "kita". Aku sedang berlatih untuk tidak terlalu sering menyebutkan kata itu, karena mungkin saja kata itu sudah kehilangan tuan aku dan tuan kamu-nya. Atau dia sudah menemukan tuan aku dan kamu yang baru? Mungkin saja di pihakmu, ya. Maaf kalau aku menebak-nebak.

Kamu masih ingat dengan setiap janji yang lahir diatas trampolin itu? Tentang mimpi-mimpi manis yang ingin aku wujudkan? Dan setiap impian-impian hebat yang kamu inginkan? Aku ingat bagaimana semburat senja menemani setiap harapan dan doa yang kita sampaikan diatas trampolin itu. Trampolin itu tidak pernah gagal mencipta bahagia ketika kita beradu lompatan, tentang siapa yang bisa melompat lebih tinggi. Trampolin itu mewakili setiap harapan kita. Bahwa setinggi apapun yang bisa kita tempuh, lakukanlah. Sebab itu tidak akan membawamu terbang tinggi tanpa kembali, dia akan membawamu kembali ke pijakan tempat kamu berasal.

Perihal kembali, hari ini aku kembali. Dengan beberapa mimpi yang sudah aku wujudkan dan beberapa lagi yang masih menunggu persetujuan Sang Pewujud Mimpi. Bagaimana dengan kamu? Sudah berapa mimpi yang menjadi realisasi? Masih mau berbagi tentang mimpi-mimpi yang lain? Atau sekedar mengenalkan dunia barumu kepadaku? Aku tidak keberatan ikut serta dalam mencari objek-objek yang diinginkan lensamu. Because you're still my favorite object for my lens.

Dari-ku,
yang menyediakan waktu untuk berbagi mimpi di atas trampolin :')

Selamat Sore, @perempuansore.

0 komentar
Surat ini sengaja kukirimkan di sore hari, supaya kakak bisa jatuh cinta pada suratku sama seperti kakak jatuh cinta pada sore.

Selamat sore, kak theoresia rumthe!
Seneng banget dengan tema #30HariMenulisSuratCinta pada hari ini. Menulis surat cinta buat selebtweet. Sebenarnya ragu juga sih harus ngirim surat ini ke kakak, karena yang saya tahu, kakak lebih dari sebuah sebutan selebtweet. Iya, kamu inspirasi, kak.

Apakabar, kak? Lama ya ga ketemu. Sudah setahun kita tak pernah bertemu muka dengan muka lagi. Tapi tanpa bertemu pun kamu tidak pernah absen menjadi inspirasi. Tadi aku menanyakan kabar, kalau yang aku dengar, kamu lagi sibuk mengumpulkan buku untuk Tabaos. Sekali lagi, kamu (masih) menginspirasi. Ditengah kesibukanmu sebagai penyiar dan penyair, kamu masih melakukan hal-hal yang berdampak besar untuk orang banyak. Ah, tidak salah kalau surat ini ku alamatkan padamu.

Bagaimana kabar hari-harimu di Bandung, kak? Masih setia dengan rambut super-kewl mu yang pendek? Aku inget, dikala banyak wanita yang mencoba memanjangkan rambutnya, kamu muncul dengan memangkas mahkota panjangmu menjadi sangat pendek. Dan memang benar, keren itu adalah gen, dan kamu terlahir dengan gen itu. You look so hot with your fabulous hair. ♥

Dengan segala pekerjaan yang kamu geluti sekarang, aku seperti melihat mimpi-mimpiku yang terwujud lewat hidup orang lain. Tuhan Maha Keren, ya? Disaat jalanku di belok-kan untuk menuju tempat lain, aku tetap diizinkan untuk melihatnya lewat hidupmu. Sekali lagi, kamu memang isnpirasi.

Hati apakabar, kak? Atau kita skip saja perbincangan yang ini? ;))
Terimasih sudah sering mengingatkan, "sayang banget sama seseorang itu sepaket sama berani ngelepasin". Iya, akhir-akhir ini aku sedang belajar kembali tentang hal itu. Time flies ya, bagaimana nasehat beberapa tahun lalu kembali diterapkan di hari ini. :')

Untuk semua hal baik yang disiapkan Pemilik Hidup kepadamu, aku percaya kamu tidak akan pernah menerima sisa. Burung pipit saja Dia pelihara, apalagi nona manis sepertimu?

Semoga surat ini tidak membosankan, karena pasti akan banyak surat yang dialamatkan kepadamu hari ini. Danke banya, Usi.

Ciong sayang,
Adikmu :')

p.s: titip salam untuk Bandung. Katakan, aku ingin mengecap kembali cinta di kota itu. ♥

Minggu, 02 Februari 2014

Lekas Pulih, Sinabung!

0 komentar
Karena rasa-rasanya tidak akan ada yang dapat membawa surat ini langsung ke kaki gunung itu, maka aku bersyukur ada sarana #30HariMenulisSuratCinta ini. Ini bukan hanya sebuah surat cinta, lebih dari itu ada doa dan pengharapan yang ku suratkan untuk semua saudaraku disana.

Aku tidak akan menanyakan kabar melalui surat ini, karena kabar terakhir yang ku dengar, ada 14 wartawan dan relawan yang melakukan tugasnya dengan sangat baik disana. Mereka bukan hanya melakukan, tetapi juga telah mengakhiri tugasnya disana. Aku sedang tidak menyalahkan semburan awan panasmu akan kepergian mereka, karena aku tahu mereka sudah mendapatkan tempat terbaiknya saat ini. Tidak berlebihan rasanya jika "Mengheningkan Cipta" di Upacara senin pagi ini dialamatkan kepada mereka. Karena kehilangan bukan hanya milik keluarga yang ditinggalkan. Kamipun turut merasakan.

Sinabung sayang,
banyak orang yang mempercakapkanmu sekarang. Ada yang prihatin, bahkan tidak sedikit juga yang mencacimu. Jangan semakin marah ya untuk hal itu. Bersyukur mungkin hal yang sulit bagi mereka yang tertimpa ujian berat. Akupun sedang belajar untuk hal itu. Semoga saja kekuatan hati mampu menjadi milik mereka yang harus berpisah dengan rumahnya. sanak saudaranya, dan kesayangannya.

Bung,
aku membaca beberapa surat yang datang dari putra-putri kebanggaanmu untuk pemerintah. Ada satu surat yang cukup menyedot perhatian kami beberapa waktu ini. Kalau tidak salah pengirim suratnya bernama Vita Sinaga Hutagalung. Ah, kamu pasti mengenalnya, kan? Kamu juga pasti bangga karena dia mampu menyuarakan apa yang kalian rasakan disana. Kabar baiknya, surat itu telah diterima dengan tepat oleh yang bersangkutan, yang menerima surat pun katanya telah meminta maaf di media massa, semoga saja bukan pencitraan ya, bung. Pasti kamu juga mengharapkan hal yang sama untuk ini. Apa? Kamu sudah tidak mengharapkan apa-apa lagi dari janji itu? Kita sama-sama berdoa ya untuk itu. Karena hanya Tuhan yang mampu mengubahkan hati manusia, termasuk hati penerima surat kiriman Vita Sinaga Hutagalung tersebut.

Kebanggan kami, Sinabung..
kami berharap kamu belum apatis kepada manusia. Karena diluar sana masih banyak yang mencintaimu, dan terus berdoa untuk pemulihanmu. Banyak yang gotong royong bahu-membahu mengumpulkan donasi untukmu. Musisi-musisi superkeren pun semalam ikut ambil bagian dalam #SingingToilet, sebuah charity concert untukmu. Sampai disini, sudah alasan belum untuk kembali mempercayakan prikemanusiaan kami? Aku harap kamu dapat mempertimbangkannya. Ini semata-mata bukan usaha nan pamrih, ini adalah bentuk kecintaan kami terhadap kamu. Semoga cinta kami tidak bertepuk sebelah tangan.

Maafkan aku kalau harus segera mengakhiri surat ini. Tetapi doa dan harapan untuk pemulihanmu belum akan berakhir sampai disini. Aku masih menantikan senyum-mu. Senyum-mu yang dulu. Yang memikat para pecinta alam untuk menaklukanmu. Beristirahatlah dari bangun panjangmu. Istirahat selama mungkin yang kamu bisa. Dan kalaupun suatu hari nanti kamu harus terbangun kembali, satu pinta kami, janganlah bangun dengan amarah maha dahsyat.

Dari-ku,
yang (masih) mendoakanmu.

Sabtu, 01 Februari 2014

Happy Sunday, Happiness!

0 komentar
"Happy Sunday, Happiness!"
From: +628219167**80

Surat ini untuk kamu. Kamu yang selalu rutin mengirimkan pesan singkat untuk-ku di minggu pagi. Hampir 2 tahun sapaanmu selalu mengawali minggu pagi-ku. Jawaban "Ini siapa?" sepertinya tidak pernah mendapat tanggapan darimu. Atau mungkin saja itu kedengaran kurang sopan? Ah, maafkan aku untuk itu. Aku bukan tipe yang ulung dalam hal berbasa-basi. Aku bukan tipe intelijen yang harus mencari tahu hari itu juga siapa pemilik jemari yang dengan setia mengetik, "Happy Sunday, Happiness!". Aku bukan penggemar permainan "Hide and Seek", yang akan berusaha keras untuk mencari sosok dibalik nomor itu.

Mungkin kamu akan men-cap aku sebagai gadis yang sombong. Mungkin kamu menganggapku terlalu meniadakan hal itu. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja?

Kenyataannya, aku takut. Aku takut selama ini semua pesan singkat yang kamu kirimkan hanyalah salah alamat. Aku tidak merasa cukup pantas untuk menjadi standar sebuah "Happiness". Itu adalah sebuah penghargaan tertinggi. Itu semacam tujuan akhir dari sebuah perjalanan, walaupun kata orang-orang, "Happiness is a journey, not a destination", aku tetap menganggap apa gunanya menikmati kebahagiaan dalam perjalanan jika tujuan akhirnya tidak lebih bahagia? :")

Iya, aku takut untuk sebuah sebutan itu. Karena jujur saja, dalam kurun beberapa bulan terakhir ini, aku mulai menikmati sapaan-mu di minggu pagi-ku. Aku menikmati kesetiaanmu yang tak pernah melewatkan satu hari minggu-pun untuk menemuiku lewat pesan singkat. Aku menikmati semu merah yang muncul di wajahku ketika membaca pesan singkat itu.

Aku tidak tahu kapan kamu akan berhenti untuk itu. Aku tidak tahu sampai kapan kamu akan menemui titik jenuh-mu untuk berhenti menyapaku.
Dan...
Aku tidak tahu mengapa aku tidak menginginkanmu untuk mengakhirinya. :")

Dari-ku,
+628534100**09

p.s:
Sms kamu baru saja masuk. Happy Sunday too, (happiness)!

Jumat, 31 Januari 2014

Kepada Kamu, Yang Selalu Kuat.

0 komentar
Sudah lama rasanya tidak mengirim surat. Ah, lagipula aku bukan peramu yang hebat dalam meramu kata menjadi bait. Aku sedikit bingung memutuskan akan mengirimkan surat ini kepada siapa. Di otak-ku berkelabat beberapa obyek yang menagih tempat untuk menjadi tujuan akhir surat ini. Dan ya, bagaimana kalau surat pertama ini dimulai dengan mengirimkannya kepada kamu?

Entah apa yang membuatmu bisa bertahan sekuat ini. Sejauh ini. Tidak terhitung berapa luka dan bahagia yang pernah menghampirimu. Kau tidak pernah lelah memberikan ruang untuk yang mau tinggal atau bahkan hanya sekedar mampir. Wow, seluas apa ya kamu? Bahkan untuk menampung segala motif-motif terselubung pun kamu mampu. Kata orang-orang bentuk kamu semacam dua lengkungan yang bertemu dengan satu sudut yang mempertemukan. Ah, nampaknya bentuk kamu lebih besar dari itu. Seluas lingkaran yang tidak punya titik temu, mungkin? Semoga saja begitu, ya.

Sampai detik ini, entah sudah berapa kilogram beban yang datang menghampirimu. Ya, mungkin saja tidak ada ukuran baku yang bisa menimbangnya. Dengan begitu hebatnya kamu masih kuat saja menampung segala beban itu. Hebat ya, kamu?

Entah sudah berapa letupan-letupan kecil yang kamu hasilkan untuk dia yang pernah datang dan (atau) mungkin sedang dalam perjalanan menuju kamu. Eh, tapi apakah masih ada tempat untuk yang masih dalam perjalanan? Aku harap masih ada. Tentu aku akan menolongmu menyiapkan tempat itu. Bukannya kita adalah tim yang unggul dalam bekerjasama untuk hal ini? ;)

Aku minta maaf kalau aku terlalu sering mengikutsertakanmu dalam mengambil keputusan. Padahal, aku tau kamu masih punya seorang teman di dalam otak-ku yang bisa aku andalkan dalam memilih dan memilah. Tetapi, lagi-lagi aku selalu memilih kamu untuk melaksanakan peran itu. Bukannya aku ingin membebanimu, tetapi kadangkala aku terlalu percaya kepada kamu. Kepercayaan itu pula yang sering kali menyeret kamu untuk merasakan luka yang sama. Maaf ya, kamu.

Terimakasih sudah menjadi begitu kuat. Aku sanggat bangga kepadamu. Aku mau kita tetap menjadi tim yang baik kedepannya. Yang kita butuhkan adalah banyak bersabar. Aku mau kita belajar lebih keras lagi dalam hal menyeleksi. Tidak keberatan kan kalau lagi-lagi aku mengandalkanmu? Aku harap kamu (masih) mengerti.

Aku yakin, akan datang saatnya dimana kamu tidak akan merasakan luka lagi. Akan datang saatnya dimana setiap sisimu akan terus dipenuhi letupan-letupan kebahagiaan. Sambil menunggu saat itu tiba, maukah kamu berjanji untuk tetap kuat?

Terimakasih sekali lagi kamu, HATI-ku.
Tugasmu belum selesai. Bertahanlah.

 

#30HariMenulisSuratCinta

0 komentar

Halohaaaaaa..
Selamat datang Februari, bulan semanis coklat! Akhirnyaaaa, setelah beberapa tahun coba ikutan dan selalu ga rutin tiap hari bisa menghasilkan surat cinta, tahun ini kembali mencoba peruntungan dalam menyampaikan se-sweet-tu. So readers, postingan yang bakal kalian baca selama sebulan ini mungkin saja hanya berisi bait-bait surat bertuan. Happy reading, selamat jatuh cinta, manis! :)
 

aphrodityasherlisa Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template