Tampilkan postingan dengan label LOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOVE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Juni 2017

Home

0 komentar
Two words that I find beautiful in the English language are ‘house’ and ‘home’.
You may have a house but not a home. You might be a couch-surfer but you have a home. You may have your summer house, winter house, etc but you long for just that one home.
Sometimes something you call home does not have to be an actual house. Sometimes something you call home is not the people you are living with under the same house.
Home is probably more than one place. Maybe we all have several: the place where we live now, the place where we grew up, and the place we dream of returning to.
If we are lucky, maybe we find all of these somewhere on a map.
If we are lucky, maybe we learn that home is another thing.

Four walls and a roof over your head isn’t the only way we define the word ‘home.’ Home is more then just a shelter, it’s where we love, it’s where we feel, it’s where we can be ourselves and it’s where life happens.

Home is a place you grow up wanting to leave, and grow old wanting to get back to. -Unknown

Rabu, 17 Mei 2017

Bakar Jembatan

0 komentar
Bagi yang udah nonton film "Critical Eleven" pasti langsung ngeh sama judul diatas. Punchline yang dilontarkan Ale ketika ingin melamar Anya didalam mobil. Sebagai salah satu orang yang sangat menantikan novel Critical Eleven diadaptasi ke layar lebar, tentunya di pemutaran hari pertama pun saya sudah turut serta mengambil bagian untuk menonton. Dan film ini sukses mengaduk-aduk perasaan wanita di usia tanggung seperti saya.

((( USIA TANGGUNG )))

Usia tanggung yang saya maksud adalah quarter-life-crisis atau krisis seperempat abad.
Usia-usia dimana undangan yang kalian terima udah bukan hanya undangan nikahan lagi bahkan udah memasuki zona undangan aqiqah-an.
Usia-usia dimana ketika pembahasan dikala ngumpul dengan temen se-geng udah memasuki harga stroller, pampers yang super dry, dan juga tempat baby spa yang lucu.
Usia-usia dimana mengunjungi mothercare jauh lebih satisfying dari stradivarius.
Usia-usia dimana kalian mulai nelangsa kehilangan temen "maen" karena prioritas mereka udah naik tingkat ke mengurus keluarga.
Usia dimana kamu belum memasuki semua tahapan diatas.

Sedang di zona itu? *mari berpegangan mengelilingi bola dunia*

Back to "Bakar Jembatan". Bakar Jembatan merupakan istilah yang dipakai Ale ketika mengutarakan keinginannya untuk memasuki tahap yang lebih serius bersama Anya. Ibarat dua orang yang sedang menyeberang ke suatu tempat dan melewati sebuah jembatan, ketika tiba di tempat yang dituju mereka memutuskan untuk membakar jembatan itu bersama-sama. It means, no turning back! Ga bakal bisa balik lagi karena jembatan itu merupakan satu-satunya jalan penghubung antara tempat sebelumnya dan tempat yang kalian tuju. Dalam kasus Ale-Anya, Ale merasa yakin bahwa Anya orang yang tepat bagi dia untuk membakar jembatan itu sama-sama. Even ga ada lagi turning back bagi Ale, dia merasa akan baik-baik saja karena telah melakukannya bersama Anya. SAMPAI DISINI ADA YANG TIBA-TIBA INGIN SEGERA MEMILIKI ALE IN HER OWN VERSION? YOU'RE NOT ALONE, GIRLS. *pukpuk*

Bagaimana sih kita bisa yakin sudah menemukan orang yang tepat untuk "bakar jembatan bareng-bareng"? Pertanyaan ini kembali terlontar dikali kedua saya beres nonton Critical Eleven. IYA, 2 KALI. Saking masih kangennya sama Ale jadinya 2 kali. *EH*
Ya, apa sih yang bisa buat kita sebegitu yakinnya? Pertanyaan ini kerap hinggap pada wanita usia tanggung seperti saya. Dengan melihat bahwa tidak semua berakhir bahagia justru membuat saya pun kerap takut. Ada yang ditinggal ditengah jalan, ada yang kehilangan hal yang sangat dinantikan seperti kisah di film Critical Eleven, ada yang harus melepas mimpi-mimpinya karena harus merubah prioritasnya. Ada begitu banyak contoh ga manis yang saya lihat di sekitar. Sebab semua yang manis-manis biasanya lebih sering tersuguhkan di film :') Bukannya saya apatis dengan happiness after marriage, tetapi you know lah melihat contoh nyata lingkungan sekitar membuat kita lebih hati-hati atau bahkan takut.

Perenungan ini terus berlanjut dan membawa saya kepada satu kesimpulan.
Untuk membakar jembatan bareng-bareng, carilah orang yang siap membawa 'minyak' untuk memperbesar nyala apimu. Jangan cari orang yang membawa air, karena itu hanya akan memadamkan apimu. Jangan cari orang yang membawa angin, karena dia hanya akan meniup apimu sehingga kemana-mana. The conclusion is, find the one that dreams the same vision with you. Karena beberapa kegagalan yang terjadi disebabkan karena menghidupi dua visi yang berbeda. Akhirnya di pertengahan jalan mereka sadar, kalau apinya akan segera redup sebelum jembatannya habis terbakar karena yang satu lagi sedang mencoba memadamkannya dengan air.

I hope you got my point :')

"Do two people walk hand in hand if they aren't going to the same place?" (Amos 3:3)

Minggu, 07 Mei 2017

Turning 25

0 komentar
I don't even know where to start. Too many things happened lately.
I turned to 25 last month.
sweet surprise #turning25

I faced (probably) the toughest year of my life.
Mencapai 25 yang digadang-gadang banyak orang harus disambut dengan sedemikian rupa justru tidak berlaku untuk saya. Entah kenapa saya sedikit tidak semangat menyambut pergantian tahun di tahun ini. Tidak mengharapkan dapat ucapan, kado, bahkan kehadiran. Bahkan pengen seharian quality time sama kasur di 24 April kemaren. Bukan, bukannya tidak bersyukur, but those birthday-routines didn't excited me anymore. I don't know why. It just flat.
2016-2017 is a year filled with college-drama. No, no, it's not about romance story between senior-junior or dosen-mahasiswi (*loh?). I'm just... too tired with this reality.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan mengambil major Engineering untuk melanjutkan studi saya. Diplomanya kimia, S1-nya teknik, ibarat rambut mungkin otak saya butuh di smoothing beberapa bulan belakangan ini. Deal dengan tugas-tugas yang tak kunjung usai, jam kuliah dari jam 7 pagi - 9 malam. Literally, 7 pagi guys no deal at all dan bener-bener teng go jam 9 malam ga pake dicepet-cepetin. Dan fyuhh.. di sabtu malam :') Di saat gadis-gadis lain diluar sana sedang mempersiapkan diri untuk dijemput pangeran berkuda putih, saya sudah lupa bahkan rupa pangeran itu seperti apa, wekekek :p

But at those hectic time, I had a favorite song titled 'Dalam-Mu' from Symphony Worship which the lyric taken from Psalm 23. You guys must listen to this song:

"The Lord is my Shepherd, i shall not fear
guide me in the right path, for the honor of His name
eventhough i walk through the darkest valley..
I will not be afraid"
NYESSS..
Diingetin lagi kalo sekelam apapun 'lembah' yang saya hadapi saat ini, respon yang harus saya berikan ya harus tetap berjalan, tanpa ngeluh, tanpa khawatir, tanpa gentar, tanpa takut, karena saya tahu siapa Gembala yang berjalan didepan saya.

So, entering 25, I do learn lots of things. A LOT.
1. In the quietness of His love, I found my strength.
All we need is to rest in Him, put away all the fear, the doubt, the worry and rest in Him knowing He is God. Then the small gentle voice will speak in your heart. You just have to be quiet, and listen.
2. ALL things work together for good.
Though we might not understand what God is doing, please know that He is a builder, not a crusher. What He is doing is to make something new, better and cooler than what we can imagine.
3. Align with God is never easy, but that is what life about.
This is my wish entering 25. For my heart aligns with God's heart. For my life aligns with what He wants. And alignment is never easy. It caused pain and hurt sometimes. But if it what really matter, then why need to run away.
4. Hold on to God, not to people.
Those things make me stand alone. I was forced to meet and work with new people I've rarely talk with. My comfort zone was 'taken' from me. My inner circle of friends. I was 'forced' to learn that God is my only source of strength.
5. I am loved.
And that's enough to give me courage to carry on and take a step, one a time. Not only by God, but from people surround me.
Much of love,
si gadis 25 tahun!

Selasa, 04 Februari 2014

Future Holder

0 komentar
Sudah lama rasanya pengen nulis postingan tentang ini. Ketunda mulu dan baru nemu waktu yang tepat di malam yang syahdu ini. So, here i go...

Sebulan ini saya diliputi kekhawatiran soal masa depan. Tentang apa yang bakal saya lakuin di 2015. Buat yang belum tau, setelah lulus dari pendidikan diploma pada tahun 2012 kemaren, saya harus kembali ke kota kelahiran saya untuk mengabdi kepada instansi yang telah menyekolahkan saya di bangku perguruan tinggi. Kuliah saya di support oleh program beasiswa Kementerian Perindustrian. Dan setelah lulus, saya harus menjalani masa kontrak kerja selama 2 tahun. Setelah itu, saya belum tau bagaimana akhirnya karena saya belum sampai di titik akhir. Saat ini saya masih setengah perjalanan. Sejujurnya, saya merasakan sebuah kejenuhan yang maha dahsyat. Saya tidak terlalu tertarik dengan rutinitas kerja seperti ini. Datang jam 8, ngetik-ngetik laporan, turun ke lapangan sesekali, menjadi panitia atau narasumber sebuah pelatihan untuk industri kecil, dan kalau tidak ada kegiatan, hanya menghabiskan satu hari full tanpa rutinitas di Kantor sampai jam 4 sore. Saya merasa tidak berkembang secara skill ataupun knowledge. Saya merasa semakin tumpul. Saya merasa tidak bergairah. I just lost my passion...

Mungkin orang-orang diluar sana menganggap kerjaan saya enak. Dengan tingkat mobilitas yang tidak terlalu tinggi, tapi saya memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup dalam sebulan. Belum lagi tunjangan-tunjangan lainnya dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kantor. Tetapi bukan itu yang saya cari. Saya mencari lingkungan yang bisa menajamkan saya dari segi skill dan pengetahuan. Saya mencari lingkungan kerja yang dipenuhi orang-orang yang dinamis. Fyi, saya adalah pegawai termuda di kantor. Rekan-rekan kerja saya umurnya berkisar 40an keatas. Saya merasa seperti bekerja bersama papa dan mama. Sejauh ini tantangan terbesar yang saya dapat dari kantor adalah ketika saya harus menjadi narasumber utama dalam pelatihan pewarnaan batik (sesuai kompetensi ilmu saya semasa kuliah). Selebihnya, saya terjebak dalam ritme pekerjaan yang sangat membosankan.

Saya mulai iri dengan teman-teman seumuran saya yang di usia mudanya, bisa mengexplore kemampuannya di tempat-tempat kerja yang superWOW. Yang bukan hanya menjual nama besar, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik. Ada yang kerja di Nokia, Samsung, Uniqlo, Kraft, Adidas, YKK Zipper, TransTV, Gagasmedia dan di beberapa Bank Negeri maupun Swasta di Indonesia. Melihat sepak terjang mereka dalam dunia karir yang pertama terlintas di benak saya adalah... "Kog pekerjaan mereka keren-keren banget sih, Tuhan?", dan beberapa pemikiran-pemikiran lain yang membawa saya dalam kondisi mengasihani diri sendiri. Sampai pada suatu malam, ga ada angin ga ada hujan, saya ga bisa berkata apa-apa lagi dalam doa malam saya, hanya tangisan saja yang bisa mewakili isi hati saya malam itu. Bahkan saya hampir menyesali keputusan saya mengapa memilih beasiswa pemerintah itu. Iya, saya sudah dalam keadaan desperate banget saat itu. Yang saya lakukan hanyalah khawatir dan complain. Saya sampai pada suatu titik, meragukan kuasa Tuhan. Tepatnya, mulai tidak percaya lagi terhadap rencanaNya atas hidup saya.

Dalam dua tahun ini, saya tidak diizinkan untuk apply pada perusahaan/instansi apapun karena saya masih terikat kontrak dengan Kementerian Perindustrian. Tetapi pada dasarnya saya bandel, saya pun coba-coba apply sana-sini tanpa sepengetahuan siapapun. Walaupun saya tahu, it's impossible for me to work in another place during two years.. 4 Oktober 2013, saya inget banget ada panggilan interview dari Uniqlo, sebuah perusahaan tekstil terbesar di Jepang yang sudah merambah 16 negara (salah satunya Indonesia). Dan yang bikin surprisenya lagi, panggilan interview ini dikirim langsung melalui nomor telepon dengan kode area Jepang (+81), walaupun lokasi interviewnya tetap di Jakarta. Senang dan galau seketika bercampur jadi satu. Senang karena ternyata jauh-jauuuuh dari Jepang, mereka mau melirik CV saya. Galaunya, karena tepat di tanggal yang sama, saya harus mengikuti sebuah event Asia Pacific Choir Games di Manado. Dan saya pun masuk dalam sebuah pikiran yang logis. Percuma juga kalau saya harus ke Jakarta untuk mengikut interview, toh ga bakalan bisa juga dengan kondisi saya saat ini. Satu lagi impian untuk berkembang lebih baik harus melebur bersama kenyataan hidup. Ck!

Sebenarnya, kalau ditanya mengenai passion saya dalam bekerja, saya lebih mencintai bekerja di media. Entah itu di stasiun TV, radio, majalah, koran, penerbitan, advertising, dll. Dari SMP, passion saya dalam hal ini sudah mulai tumbuh. Menjadi pemred mading sewaktu SMP, menjadi pemred sebuah buletin semasa SMA, dan aktif dalam mengisi artikel-artikel dalam beberapa surat kabar/majalah lokal. Tetapi passion saya tidak mendapatkan tempat terbaiknya ketika saya mengakhiri bangku SMA. Cita-cita untuk menjadi mahasiswi komunikasi harus terkubur rapat-rapat karena saya ingin meringankan beban ortu, jadinya nyari tempat kuliah yang bisa dapet beasiwa full + uang hidup. Dan berkat anugerahNya, dapetlah beasiswa full + biaya hidup + biaya buku + biaya transport PP setahun sekali dari Bandung ke daerah asal. Iya, hanya Kementerian Perindustrian memang yang bisa semurah hati itu. Tetapi sebaik apapun fasilitas yang kampus tawarkan, apalah artinya kalau kita tidak mencintai apa yang kita lakukan. Saya harus survive selama kurang lebih 3 tahun untuk berhadapan dengan hal-hal berbau kimia dan tekstil. Sebuah hal yang tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahkan semasa SMA, saya pernah beberapa kali kabur ketika mata pelajaran Kimia. :))

Kerinduan saya saat lulus SMA hanya satu. Saya mau kuliah di luar Palu yang tidak memberatkan ortu dalam hal finansial. Dengan tekad itu pula yang mengantar saya sampai di tempat yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Dan inilah saya saat ini, sedang menjalani masa kontrak yang sisa setahun lagi.

Sejujurnya saya blank dengan apa yang bakal saya kerjakan setelah ini. Saya merasa hopeless. Saya merasa khawatir sekali dengan apa yang orang-orang sebut "masa depan". Padahal, tanpa saya bertanya pun sebenarnya Dia sudah jelas mengatakan kalau rancangan-rancanganNya dalam hidup saya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Tetapi saya lebih mengizinkan kekhwatiran pegang kendali atas hidup saya saat ini. Akibatnya, hidup saya dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Bukan itu saja, saya mulai menyalahkan diri saya akan apapun yang saya alami. Saya merasa sangat jauuuuuuuuh dengan kondisi damai sejahtera.

Saya diingatkan kembali akan janjiNya melalui nubuatan seorang Pastor di Gereja saya ketika masih di Bandung, beliau mengatakan, "jangan takut untuk apa yang akan kamu hadapi di depan, kamu akan dipakai menjadi besar di tempat dimana kamu akan pergi.." JENGJENG! Padahal saya ga pernah ngasih tau sebelumnya kalau saya akan meninggalkan Bandung dalam waktu dekat. Tetapi dengan ajaibnya Tuhan memakai Pastor itu untuk meneguhkan saya. Dan itu terbukti, baru beberapa bulan kembali di Palu, Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi seorang youth leader di Gereja lokal saya. Walaupun banyak pergumulan yang saya hadapi dalam memimpin di komunitas ini, tapi kasih sayang Tuhan terus berlaku dalam "menangkap" saya untuk tidak lari meninggalkan komunitas ini.

Sampai akhirnya saya merenung...
Aphro, dimana kamu taruh iman kamu? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, why still worry? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa bandingin masa depan kamu dengan kisah orang lain? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa kamu takut? 
Kenapa?
Karena simply, saya lebih menaruh iman kepada yang kelihatan daripada yang gak kelihatan. Which is itu berarti bukan iman. Dan untungnya Tuhan masih terlalu amat sabar sama saya. Then i know i have a faithful God. Ya, sekarang memang saya belum melihat apapun yang akan terjadi didepannya, saya belum melihat pintu-pintu lain yang akan terbuka untuk saya, saya belum tahu apa yang bakal saya lakuin, i don't understand His plan for me nowadays, i don't know what His will. But one thing i know for sure... Even when i don't understand His plan for me, i know He is with me.
 
You don't have to be worry, you don't have to be afraid, because I AM WITH YOU, says the Lord. 
 
Di depan memang saya gak tau akan seperti apa, gak tau apa yang akan terjadi, gak tau harus bagaimana dalam menghadapi apa, but i know, Tuhan ada di depan sana, He has prepared great things for me, He has greater plan than i have for myself.
 
And 'til the doors are opened, i'm gonna still praise Him in the hallway. Because i know, Who's My Future Holder.

Selasa, 21 Januari 2014

(Bukan) Tentang Sebuah Penantian

0 komentar
Kemuning semburat senja menyapanya kembali. Entah sudah senja keberapa yang dilaluinya dengan menatap lengangnya jalanan. Memperhatikan satu per satu orang-orang yang dihadirkan semesta untuk melalui jalan itu. Ada yang tergesa-gesa, ada yang berjalan pelan-pelan, ada yang berjalan seperti tak tentu arah. Ah, seperti yang dia rasakan saat ini. Sesuatu yang tak tentu arahnya. Sesuatu yang tak kunjung datang. Entah apa yang membuatnya bertahan sebetah itu. Keyakinan, mungkin? Sayangnya, hingga detik ini keyakinan tersebut kunjung tak berbalas. Tetapi dia masih disana, menanti dengan menggenggam harapan ditangan kiri, dan keyakinan ditangan kanannya.

Sebelumnya menanti tidak pernah semudah ini. Menurutnya. Walaupun beberapa orang menganggapnya seperti menjaring angin. Sia-sia. Tetapi keyakinannya mampu membawanya sejauh ini pada sebuah hal yang seringkali membuat banyak orang apatis; Penantian.

Di titik temu tempat yang menanti dan dinanti bertatapan, disana segumpal rindu menunggu untuk segera menguap. Ada desakan, "Mengapa baru sekarang?" yang tersampaikan darinya yang menanti. Ada sukacita dari dia yang dinanti, karena telah dijagai sejauh ini oleh genggaman harapan dan keyakinan olehnya yang menanti. Sebab genggaman harapan dan keyakinan yang berwujud doa itulah yang membawa dia bertemu dengan yang menanti. Seperti papan penunjuk arah. Berjalan dengan pasti menemui dia yang hampir kehilangan arah dalam menanti.

Tidak semua penantian akan berakhir selamanya. Tetapi beberapa dari mereka cukup bersyukur karena sempat dipertemukan. Mungkin saja sempat menabung asa untuk hari-hari depan yang masih penuh misteri. Bukannya kau masih bisa menikmati sendiri isi tabunganmu? Atau, kembali ingin berbagi dengan yang lain?

Sampai disini dia diingatkan. Cinta bukan tentang menanti dan menunggu. :')


"... cinta bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti kan bertemu kembali ..."
( 168 - Monita Tahalea )

Rabu, 18 Desember 2013

Yang (Kadang) Terlupakan

0 komentar
Pernah denger kan cerita tentang Maria dan Martha? Pasti udah nggak asing lagi deh dengan cerita itu.
Kalo masih agak-agak lupa nih saya kasih perikopnya : 
(Lukas 10:38-42)
10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Well, beberapa waktu belakangan ini, mungkin sekitar setahun terakhir ya, kayanya banyak banget hal yang harus diurusin baik di kantor maupun di Gereja. Kalo di kantor ritme kerjanya lumayan bisa diatur lah, tetapi untuk porsi bolak-balik rumah-gereja kayanya ga ada habis-habisnya dalam seminggu. Ada-ada aja urusan youth yang harus dikerjain. Rapat, latihan, ngelaksanain proker, visitasi, urus ini, itu, dan... Kog rasa-rasanya repot banget sama hal yang sering disebut "pelayanan" itu. Tiap mo pamit sama papa mama, "Ma.. Pa.. pergi dulu yaa.. Ada pelayanan di sana." It sounds so religious maybe but deep inside i felt soooooooo tired. Dan ini semua berimbas ke jam saat teduh dan jam-jam doa. Pulang dari aktifitas seharian rasanya udah pengen langsung tidur aja, i lost my passion when i pray. Rasa-rasanya gairah untuk bercakap-cakap dengan Dia udh sangaaaat memudar. Hanya sebatas doa, "Terimakasih Tuhan buat hari ini, saya mo tidur, jagai saya, blablabla..", sampai saya mikir, ini doa atau laporan sebenarnya.. Imbasnya saya jadi gampang unmood, unstable, dan tiap ada waktu kosong sedikitpun pasti saya pakai untuk hura-hura, maen kesana dan kesini, dan mencari pelampiasan di tempat lain yang bisa mengurangi segala keletihan saya dengan "pelayanan" ini.

Back to cerita Martha dan Maria, akhirnya saya sadar bahwa saya sudah menjadi Martha yang sangat sibuk urus ini, urus itu. Keliatannya sih bagus yaa tapi saya tidak sadar bahwa saya sudah melupakan bagian terbaik saya yaitu: duduk diam di kaki Tuhan, bangun hubungan intim sama Tuhan. 
Indikator paling jelasnya adalah jam saat teduh dan jam doa saya berantakan, saya gak lagi menyediakan tapi jadi menyisakan waktu untuk Tuhan. Oh God, forgive me! 
Berkali-kali ketika saya baca cerita Martha dan Maria, saya selalu bingung, kenapa sih kog seolah-olah Tuhan lebih membenarkan Maria. Emang salah ya kalo Martha sibuk melayani? Kalo nggak ada orang-orang yang mo sibuk di pelayanan, mana bisa? Nah setelah saya mengalami keletihan rohani ini, saya akhirnya paham. Bukannya kita tidak boleh melayani, bukannya nggak boleh sibuk, tapi kita harus tau waktu-waktu dimana kita harus sibuk, dimana kita hanya harus duduk diam di kaki Tuhan, dengerin Tuhan ngomong apa. 
Dalam pelayanan juga gitu, ada kalanya kita bekerja, dalam arti urusin acara ini dan itu di Gereja, bikin program ini dan itu tapi ingat kita nggak boleh melupakan bagian yang terbaik yaitu build intimacy with God. Kenapa Tuhan bilang bahwa Maria memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya? Karena pelayanan kita, kesibukan kita, itu bisa hilang dan diambil begitu saja. Yaa that's true. Saat ini mungkin kita jadi ketua youth, jadi ketua ini dan itu, tapi sampai kapan sih? Nggak mungkin kan seumur hidup kita jadi ketua youth? Tapi yang namanya hubungan pribadi sama Tuhan, intimacy itu nggak akan ada yang bisa ambil dari hidup kita. Sifatnya private, antara kita dan Tuhan! =) 
Yuk kita belajar untuk mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan lebih dari apapun, lebih dari kesibukan pelayanan kita. 
Program-program yang kita rancang di Gereja, itu seharusnya lahir dari pewahyuan yang Tuhan berikan lewat hubungan pribadi kita dengan Tuhan bukan hanya dengan akal manusia. 
and..
the best place in the world is in the Presence of God..

Senin, 16 Desember 2013

I HAVE ONE.

0 komentar

Ever have that one person in your life that you just can't give up on, the one person that can screw you over time after time, yet you always seem to give them another chance? And no matter how many times you say this is their last one, you know it's a lie because there's always just one more waiting for them. The one person you know you're better off without, but you can't find a way to let them go because deep down inside, you wouldn't know what to do without them. The one person you know doesn't deserve you, but yet you choose to overlook it because you simply love them too much.

Selasa, 27 Agustus 2013

terimakasih, Kesayangan!

0 komentar
terima kasih untuk kasih yang paling sempurna dalam hidup saya.
terima kasih karena selalu setia mengasihi saya dan tidak pernah menuntut balik.
terima kasih untuk tangan dan rusuk yang berlubang, namun tidak pernah cinta itu berkurang karena 'bocor'.
terima kasih untuk mencintai kekurangan saya, keanehan saya, kekanak-kanakan saya, terimakasih untuk kesetiaan yang seringkali tak berbalas.
terima kasih untuk cinta yang kelihatannya tidak masuk di akal, namun sudah terbukti sejati melalui rentang waktu.
terima kasih untuk tangan yang selalu terbuka lebar menunggu, walau terkadang saya suka bermain sampai lupa pulang.
dan yang paling penting....
terima kasih, karena sudah menanggung apa yang tidak seharusnya Kamu tanggung.
saya cinta Kamu, lebih dari apapun.
saya cinta Kamu. saya janji akan terus begini.
saya tidak mau pindah ke lain hati.

Minggu, 28 April 2013

yang tetap tinggal.

0 komentar
Kita terlalu mudahnya jatuh cinta dengan tulisan yg kita baca, dengan lagu apa yg kita dengar, cenderung cepat percaya dengan apa yang diucapkan oleh orang terdekat, yang melabeli dirinya sebagai pacar.
Bagaimana, kalau suatu saat penglihatanmu berkurang dan kamu tidak mempunyai kacamata baca? Bagaimana kalau suatu saat telingamu tak cukup peka untuk mendengar lagi lagu lagu cinta? Bagaimana kalau tak bisa lagi kau memegang kata kata pasanganmu dengan penuh rasa percaya…
Karena, pada akhirnya bukan tulisan tulisan indah lagi yg bisa kita baca, bukan lagu lagu cinta yg dinyanyikannya yg ingin kita dengar, bukan iming iming janji yg menjadi pegangan, melainkan tindakan tindakan apa yg telah dilakukan yg dapat seluruh jiwa ini rasakan.

Dengarlah,
Kamu hanya butuh pundak untukmu bersandar, melabuhkan seluruh penat yg membanjiri kemeja kesukaannya dengan segala air mata dan ia tak mempermasalahkannya. Kamu hanya butuh telinga yg mendengar, tanpa mulut yg banyak berkomentar. Kamu hanya butuh tangan yg selalu terkatup rapat mendoakanmu agar tetap dan selalu kuat menghadapi hari harimu yg berat. Kamu hanya butuh peluk hangat untuk tulang tulangmu yg ngilu. Dan, terlebih daripada itu: Kamu hanya butuh ia sebagai pribadi yg selalu ada; sebagai pendongeng cerita tulisan tulisan indah, hasil cinta kalian berdua, ketika kamu tak bisa membaca karena tak ada kacamata; sebagai pemutar musik musik yg kalian sama sama hafal betul liriknya, sehingga bersama sama menyenandungkan irama yg indah, sampai tanpa perlu janji apa apa, tak terasa kalian sudah tua dan kembali menjadi tanah, bertemu di kehidupan selanjutnya.


Selasa, 02 April 2013

Ketika Kamu Terluka

0 komentar

Tiap orang punya satu ruang kosong dalam hatinya yang tidak bisa diisi siapapun. Yang jika dipaksa isi, hanya ada luka. Ada malam-malam panjang yang merana kala ruang itu masih hampa. Siapapun yang singgah di sana hanya berikan lara. Ruang itu bukan untuk mereka.
Hatimu terlalu berharga untuk mereka yang pernah menoreh luka. Airmatamu terlalu indah untuk mereka yang menggurat duka.
Waktu berbohong padamu, jika ia bilang bisa menyembuhkan luka.
Hati yang luka dan ruang yang hampa ibarat gelas anggur yang baru terisi separuhnya. Gelas anggur tak kan menjadi utuh jika ia bertemu dengan gelas anggur separuh pula. Sebab gelas itu tadinya adalah gelas yang kosong. Tak bisa ia menuangkan anggur yang separuh ke gelas yang isinya juga separuh, kalau akan menjadi gelas yang kosong. Gelas dengan anggur separuh hanya bisa terisi oleh pemilik anggur sendiri. Yang bisa membuatnya terisi penuh. Utuh.
Waktu adalah pendusta yang lihai. Membuatmu percaya telah menyembuhkan luka. Tidak. Ia hanya menguburnya saja.
Saat kamu telah terlena, mendadak ia bermain dalam alam pikiranmu. Memutar semua kenangan lama. Menguak luka. Waktu membuatmu tak sadar, kamulah yang memegang remote-nya. Kamu bisa menekan tombol "pause". Dan tetap berada dalam masa.
Menguak luka pun adalah suatu kenyamanan, yang membuat orang betah berkubang di sana. Jangan biarkan waktu memberi dusta. Kamu berharga.
Ketika kamu terluka, Ia terluka. Ketika kamu menangis, Ia menangis. Ia yang menenunmu sejak dalam kandungan ibu.
Dia, yang ingin membalut lukamu.
 
:')

Rabu, 27 Maret 2013

LOVE is ...

0 komentar

Sudah Selesai.

0 komentar
Waktu SD, di pelajaran agama, saya dan teman-teman kerapkali disuruh menghafal 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib. Sepaket dengan menghafal Doa Bapa Kami dan 10 Hukum Taurat. Tetapi namanya anak SD, itu semua hanya berakhir sebagai hafalan saja tanpa mengerti dengan benar makna dari itu semua. Days by days, segala pengertian demi pengertian akan itu semua pun mulai dibukakan. Banyak hal yang, "Gila, JLEB banget!", "Aaah, sweet banget sih Tuhan", dan tak sedikit berakhir dengan, "Lord, forgive me.."
Ya, segala tulisan yang diilhamkan kepada kita memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik kita dalam kebenaran.:')

Hari ini, di minggu-minggu sengsara, dimana umat Kristen di seluruh dunia akan memperingati kematian Isa Almasih di Kayu Salib, membawa perenungan sendiri bagi saya. Ini bukan semacam ritual tahunan yang hanya berlalu dengan bangun pagi, berdoa, ke Gereja, Perjamuan Kudus dan pulang. Bukan, saya bukan anak kelas 3 SD lagi yang hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan Guru Agama dan Orang Tua. Ada tanggung jawab yang saya pikul memaknai karya penyelamatanNya. Dan tanggung jawab ini bukanlah sebuah hal yang memberatkan saya, karena saya tau ada sukacita yang besar ketika saya hidup dan melakukan apa yang Dia kehendaki.

Berbicara tentang karya penyelamatan yang Dia lakukan, yang bisa saya lakukan hanya speechless..
He's too good to be true! But yes, He's so truuuuuuuue because His goodness is unlimited.
Menyinggung apa yang sempat saya tulis di awal postingan ini mengenai 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib, ini bukan hanya sekedar perkataan tanpa makna. Ini adalah pernyataan, janji, dan pengharapan.

UCAPAN PENGAMPUNAN
1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat"

UCAPAN KESELAMATAN
2. "Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus"

UCAPAN KASIH
3. "Ibu, inilah anakMu." "Inilah Ibu-mu"

UCAPAN PENDERITAAN ROHANI
4. "Eli, eli, lama sabakhtani? -- Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

UCAPAN PENDERITAAN JASMANI
5. "Aku haus.."

UCAPAN KEMENANGAN
6. "Sudah selesai."

UCAPAN PENYERAHAN
7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, ku serahkan nyawa-Ku"

Dari ketujuh perkataan yang Tuhan Yesus ucapkan di kayu salib ada satu yang-dulunya-paling-cepat-saya-hafalkan. "Sudah Selesai". Entah kenapa saya begitu menyenangi pernyataan ini. Ketika menonton film "The Passion of The Christ" dan di scene Tuhan Yesus mengatakan kalimat ini, seperti ada kelegaan tersendiri yang saya rasakan. Seperti ucapan yang menenangkan kalau "everythings gonna be alright, keep calm dear aphro.." -- SUDAH SELESAI. Mengapa Dia mengatakan itu kepada kita? Karena Dia ingin kita mengetahui bahwa segala sakit penyakit kita sudah Dia SELESAIKAN di atas Kayu Salib. Segala kekuatiran kita akan masa depan, segala ketakutan kita akan persoalan hidup, segala pergumulan yang tumpang tindih, segala ketidakpastian akan banyak hal, SEMUANYA SUDAH DIA SELESAIKAN. Bagian kita saat ini adalah menerima Kemenangan yang sesungguhnya. Banyak diantara kita yang protes karena hidup yang kita jalani masih gitu-gitu aja, ga ada hal-hal bombastis seperti kebanyakan orang, hey.. look at the Cross, dear! Semuanya sudah Dia selesaikan dengan SEMPURNA! Ketika kamu kehilangan pengharapan, just look at the Cross. Kalo ada hal-hal yang masih carut-marut saat ini, fix it with His Grace. Let's receive His victory!



Blessings,
-aphro-

Minggu, 10 Maret 2013

satu porsi untuk berdua ♥

0 komentar

Setiap menghadiri Pemberkatan Nikah di Gereja, selalu hadir pemikiran-pemikiraan kecil yang berkelabat dalam benak saya.

Saya akan menulis beberapa pemikiran pemikiran kecil tersebut. Mengenai apalagi kalau bukan cinta, namun ini bukan tentang cinta monyet, ini cinta yang akhirnya dibawa sampai nikah.

Tiga esensi penting dalam hidup, ialah: Iman, Pengharapan, dan Kasih.
Namun yang paling besar diantaranya ialah KASIH, yang biasa disebut Cinta. Ketika kita mencintai dengan cara yang salah, ketika kita mencintai orang yang salah, maka habislah.

Saya masih bertanya, apa yang membuat sepasang kekasih membawa cinta mereka dalam sebuah pernikahan. Apa yang membuat mereka yakin untuk menjatuhkan pilihan bahwa mereka telah menemukan, orang yang tepat untuk nanti menjadi partner hidup sampai menutup mata, sampai nanti tiada.

Saya juga masih bertanya, apa yang membuat mereka yakin, bahwa pasangan merekalah orang yang tepat untuk seorang anak yang nantinya memanggil mereka Papa atau Mama.

Masih saya bertanya, apa yang membuat mereka yakin, untuk bersatu menjadi sebuah keluarga.

Sampailah pada sebuah kalimat yang tidak jarang diucapkan oleh Pendeta dalam prosesi Pemberkatan Nikah, yang berkata:
"Tidaklah baik manusia hidup seorang diri saja"

Dan, Yah... Ia menciptakan umatNya untuk hidup berpasang-pasangan. Bukan hanya sepatu, atau sendok garpu. Tapi juga, aku dan kamu.

Seolah saya tertunduk, tanda setuju dan menemukan jawaban dari segala pertanyaan. Apa yg membuat mereka yakin untuk hidup berpasangan dari masa muda, hingga tua nantinya. Ialah sebagai penolong dalam hidup yang penuh masalah dan intrik didalamnya, yang porsinya memang harus ditanggung berdua, bukan seorang diri saja..

Dan, sekarang aku mulai berkaca dan berkata, "Sudah terlalu lama aku menjadi orang yang rakus, melahap jalan-nya hidup yang porsinya untuk berdua, seorang diri saja" =))))

Kamis, 14 Februari 2013

My Eternal Valentine Gift ♥

2 komentar
Honestly, i'm not celebrate valentine day anymore. Because i know, i'm loved everyday and must loving each other everyday. But today, on my quiet time, i found this very sweet letter from the One who loves me most. So, because i love all of my readers, i know it's gonna be yours also. Read, blessed, and loveeee everypeople, even your enemies!



Selasa, 22 Januari 2013

the matter of distance

0 komentar
Mengapa aku harus mengenal jarak,
jika yang aku inginkan hanya tetap mengenal kebersamaan kita untuk seterusnya?

Jarak itu hanya sejumlah angka. 
Cuma hal sepele, sesepele kemarahanku yang selalu dengan mudahnya surut,
begitu dihadapkan dengan berbagai perubahan raut mukamu yg lucu.
Jarak itu sebuah permainan.
Ia mengajak kita untuk berteman dengan waktu,
mengadu diri pada rindu,
dan meminta kita untuk melawan sendu.
Dan jarak itu sebenarnya sederhana.
Sesederhana genggaman tanganmu yang kulepas dengan enggan,
setiap kamu mengatakan bahwa kamu harus pulang, kendati tak ingin.

Terkadang jarak berubah menjadi sesuatu yang lucu,
yang mampu mengubah sosok yang selalu tidak membosankan untuk aku tatap, tiba-tiba menjadi gambar yang bergerak patah-patah tidak karuan.
Juga jarak lah yang mampu mengubah suaranya yang khas dan menenangkan, suara tawa konyolnya yang tak urung membuatku ikut tertawa, tiba-tiba menjadi suara robot yang terputus-putus ditambah dengan krasak-krusuk berbagai gaung dari mic dan speaker computer.
Dan betapa rambut dan wajah yang selalu menjadi hal favorit untuk aku elus, tiba-tiba berubah menjadi layar gepeng laptop dan terasa dingin saat disentuh.

Sebenarnya aku tidak asing dengan hal ini. Dulu, sekitarku banyak yang berhadapan dengan jarak. 
Banyak yang menyerah kalah, dan memilih untuk menghentikan langkah. Banyak yang memilih takut mencoba, dan banyak juga yang sudah mencoba, tapi gagal. 

Bukan hal aneh lagi waktu aku sadar kalau terkadang jarak mengapresiasi curiga dan mendepresiasi sayang. Tidak gampang kan buat percaya pada tulisan di layar handphone yang gak jelas gimana nada bicara dan ekspresinya? 

Tapi satu hal.
Jarak tidak pernah memberikan aku alasan untuk mengatakan, "Selamat tinggal." setiap kamu pergi.
Adalah, "Sampai bertemu lagi." yang menjadi penopang. Karena kamu, pasti pulang.

I know we can make this work for us. It's just a matter of time!
Maka biarkanlah kita berjauhan, biarkan kita lebih menghargai waktu, biarkan kita mengadu pada rindu, biarkan kita bertoleransi dengan waktu.
Dan jika ternyata sampai hari-hari kemudian aku masih menunggu, itu karena kamu memang pantas ditunggu :)

Sabtu, 03 November 2012

Wedding Invitations

0 komentar

time do flies so fast. feels like it was just yesterday i got my first sweet 17 party invitation. now, it's wedding party era...

Ya, kaya baru kemaren heboh-hebohan tiap dapet undangan sweet 17th, repot nyari dress yang cocok, kebingungan mo ngasih kado apa, bereksperimen dengan hair-do, dan segala kerepotan ala abege yang pengen terlihat stunning di sebuah pesta.

Dan sekarang, satu per satu undangan wedding berdatangan, tawaran nyanyi di wedding temen, atau sekedar nemenin temen deket ke nikahan sodara atau temennya. Ga ada lagi birthday cake, ga ada lagi dresscode, ga ada lagi balon-balon, ga ada lagi potongan cake pertama, ga ada lagi kado yang lucu-lucu. Semuanya berganti. Wedding Cake, Formal Gown, Wedding Decoration, Wedding Kiss, dan angpau yamg kita kasih buat yang nikahan."Happy Birthday to You" yang sering didendangkan pun perlahan menjadi "Because You Loved Me"-nya Celine Dion. Fyuuh.
Salah Seorang saxophonist terbaik negeri ini *ailahhh..*, Bang Horas Siregar, pernah nyeletuk waktu kita sama-sama ngisi di sebuah acara weddingan, "Nyanyi mulu phro, kapan dinyanyiin?" Pfft. Pertanyaan itu nampaknya hampir sama ya dengan, "Ke undangan mulu, nyebarin undangannya kapan nih?" HAHA.
 
Adaptasi demi adaptasi pun dialami, dinikmati, dan sebisa mungkin tidak menjadi cambuk yang membuat tergopoh-gopoh hingga akhirnya salah pilih. Sebab ini keputusan sekali seumur hidup. Selagi masih muda, mari nikmati hidup, layani Tuhan sejauh mungkin kau bisa pergi. Karena "a woman's worth doesn't come from the man she dates, clothes she wear, career she has, or money she's earned. It comes from the God she serves." Bukannya ga usaha ya, tapi satu yang saya percaya banget, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka SEMUANYA itu akan ditambahkan kepadamu." SEMUANYA loh, bukan seperempat, setengah, atau secuil. Semuanya itu apa aja? Yah semuanya! Prestasi, karir, dan seseorang yang akan jadi your whole life.

So, prepare your best, because the best is yet to come :')

Rabu, 31 Oktober 2012

some songs brings me back to you... ♫

0 komentar


Kalo kata Sara Bareilles di lagu Gravity-nya, "Something always brings me back to you..", dengan tidak mengurangi rasa hormat sama pencipta lagu ini, gue bakal ngerubah dikit menjadi, "Some songs always brings me back to you.."
Yah, disadari atau ga, beberapa orang yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita mempunyai peranan penting untuk bikin mood naik-turun ketika kita mendengar sebuah lagu. Contohnya nih, tiap gue denger lagu "Numb - Linkin Park", otak gue langsung nge-drive ingatan gue ke salah seorang sahabat terbaik gue pas SMP yang udah sekitar 9 tahun ga pernah ketemu lagi, Tiara Arbani. Ada cerita khas anak SMP dibalik lagu itu. Kalo suntuk sama pelajaran kita berdua bisa nyanyiin lagu itu sambil teriak-teriak, kalo kecengan lewat pasti clue-nya pake lagu itu. Ah, it's so oooooold-skul i think, and yes.. i miss it :')

Days by days, ketika gue ngejalanin kehidupan dengan orang-orang luar biasa yang Tuhan taroh di sekeliling gue, makin banyak soundtrack-soundtrack yang tersimpan di memori otak gue dengan label nama mereka masing-masing. Entah itu pengalaman manis, pengalaman pahit, momen-momen jatuh cinta *ehemm*, dan bahkan a lil bit broken-ness.. :'D

Dari sini gue belajar, gue ga mo menglabelkan hidup gue dengan lagu-lagu sendu, lagu-lagu pengkhianatan, atau lagu-lagu yang bikin mood orang down. Karena gue tau sendiri gimana rasanya pas denger lagu John Mayer - All We Ever Do Is Say Goodbye dan gue tiba-tiba jadi sedih nginget orang dibalik lagu itu, dan mendadak mood gue seharian ga seasik sebelum gue dengerin lagu itu. Gue pengen tiap orang yang denger lagu-lagu semacam "She is The Bomb - Jason Mraz" bisa keingetan sama gue, dan bisa chillin' out their day. Hehehe.

So, what's the song you choose to be your image? Live it!

We remember people by songs. I also remember you by songs. @perempuansore
 

aphrodityasherlisa Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template