Tampilkan postingan dengan label HOPE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HOPE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

Future Holder

0 komentar
Sudah lama rasanya pengen nulis postingan tentang ini. Ketunda mulu dan baru nemu waktu yang tepat di malam yang syahdu ini. So, here i go...

Sebulan ini saya diliputi kekhawatiran soal masa depan. Tentang apa yang bakal saya lakuin di 2015. Buat yang belum tau, setelah lulus dari pendidikan diploma pada tahun 2012 kemaren, saya harus kembali ke kota kelahiran saya untuk mengabdi kepada instansi yang telah menyekolahkan saya di bangku perguruan tinggi. Kuliah saya di support oleh program beasiswa Kementerian Perindustrian. Dan setelah lulus, saya harus menjalani masa kontrak kerja selama 2 tahun. Setelah itu, saya belum tau bagaimana akhirnya karena saya belum sampai di titik akhir. Saat ini saya masih setengah perjalanan. Sejujurnya, saya merasakan sebuah kejenuhan yang maha dahsyat. Saya tidak terlalu tertarik dengan rutinitas kerja seperti ini. Datang jam 8, ngetik-ngetik laporan, turun ke lapangan sesekali, menjadi panitia atau narasumber sebuah pelatihan untuk industri kecil, dan kalau tidak ada kegiatan, hanya menghabiskan satu hari full tanpa rutinitas di Kantor sampai jam 4 sore. Saya merasa tidak berkembang secara skill ataupun knowledge. Saya merasa semakin tumpul. Saya merasa tidak bergairah. I just lost my passion...

Mungkin orang-orang diluar sana menganggap kerjaan saya enak. Dengan tingkat mobilitas yang tidak terlalu tinggi, tapi saya memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup dalam sebulan. Belum lagi tunjangan-tunjangan lainnya dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kantor. Tetapi bukan itu yang saya cari. Saya mencari lingkungan yang bisa menajamkan saya dari segi skill dan pengetahuan. Saya mencari lingkungan kerja yang dipenuhi orang-orang yang dinamis. Fyi, saya adalah pegawai termuda di kantor. Rekan-rekan kerja saya umurnya berkisar 40an keatas. Saya merasa seperti bekerja bersama papa dan mama. Sejauh ini tantangan terbesar yang saya dapat dari kantor adalah ketika saya harus menjadi narasumber utama dalam pelatihan pewarnaan batik (sesuai kompetensi ilmu saya semasa kuliah). Selebihnya, saya terjebak dalam ritme pekerjaan yang sangat membosankan.

Saya mulai iri dengan teman-teman seumuran saya yang di usia mudanya, bisa mengexplore kemampuannya di tempat-tempat kerja yang superWOW. Yang bukan hanya menjual nama besar, tetapi juga jenjang karir yang sangat baik. Ada yang kerja di Nokia, Samsung, Uniqlo, Kraft, Adidas, YKK Zipper, TransTV, Gagasmedia dan di beberapa Bank Negeri maupun Swasta di Indonesia. Melihat sepak terjang mereka dalam dunia karir yang pertama terlintas di benak saya adalah... "Kog pekerjaan mereka keren-keren banget sih, Tuhan?", dan beberapa pemikiran-pemikiran lain yang membawa saya dalam kondisi mengasihani diri sendiri. Sampai pada suatu malam, ga ada angin ga ada hujan, saya ga bisa berkata apa-apa lagi dalam doa malam saya, hanya tangisan saja yang bisa mewakili isi hati saya malam itu. Bahkan saya hampir menyesali keputusan saya mengapa memilih beasiswa pemerintah itu. Iya, saya sudah dalam keadaan desperate banget saat itu. Yang saya lakukan hanyalah khawatir dan complain. Saya sampai pada suatu titik, meragukan kuasa Tuhan. Tepatnya, mulai tidak percaya lagi terhadap rencanaNya atas hidup saya.

Dalam dua tahun ini, saya tidak diizinkan untuk apply pada perusahaan/instansi apapun karena saya masih terikat kontrak dengan Kementerian Perindustrian. Tetapi pada dasarnya saya bandel, saya pun coba-coba apply sana-sini tanpa sepengetahuan siapapun. Walaupun saya tahu, it's impossible for me to work in another place during two years.. 4 Oktober 2013, saya inget banget ada panggilan interview dari Uniqlo, sebuah perusahaan tekstil terbesar di Jepang yang sudah merambah 16 negara (salah satunya Indonesia). Dan yang bikin surprisenya lagi, panggilan interview ini dikirim langsung melalui nomor telepon dengan kode area Jepang (+81), walaupun lokasi interviewnya tetap di Jakarta. Senang dan galau seketika bercampur jadi satu. Senang karena ternyata jauh-jauuuuh dari Jepang, mereka mau melirik CV saya. Galaunya, karena tepat di tanggal yang sama, saya harus mengikuti sebuah event Asia Pacific Choir Games di Manado. Dan saya pun masuk dalam sebuah pikiran yang logis. Percuma juga kalau saya harus ke Jakarta untuk mengikut interview, toh ga bakalan bisa juga dengan kondisi saya saat ini. Satu lagi impian untuk berkembang lebih baik harus melebur bersama kenyataan hidup. Ck!

Sebenarnya, kalau ditanya mengenai passion saya dalam bekerja, saya lebih mencintai bekerja di media. Entah itu di stasiun TV, radio, majalah, koran, penerbitan, advertising, dll. Dari SMP, passion saya dalam hal ini sudah mulai tumbuh. Menjadi pemred mading sewaktu SMP, menjadi pemred sebuah buletin semasa SMA, dan aktif dalam mengisi artikel-artikel dalam beberapa surat kabar/majalah lokal. Tetapi passion saya tidak mendapatkan tempat terbaiknya ketika saya mengakhiri bangku SMA. Cita-cita untuk menjadi mahasiswi komunikasi harus terkubur rapat-rapat karena saya ingin meringankan beban ortu, jadinya nyari tempat kuliah yang bisa dapet beasiwa full + uang hidup. Dan berkat anugerahNya, dapetlah beasiswa full + biaya hidup + biaya buku + biaya transport PP setahun sekali dari Bandung ke daerah asal. Iya, hanya Kementerian Perindustrian memang yang bisa semurah hati itu. Tetapi sebaik apapun fasilitas yang kampus tawarkan, apalah artinya kalau kita tidak mencintai apa yang kita lakukan. Saya harus survive selama kurang lebih 3 tahun untuk berhadapan dengan hal-hal berbau kimia dan tekstil. Sebuah hal yang tidak pernah ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahkan semasa SMA, saya pernah beberapa kali kabur ketika mata pelajaran Kimia. :))

Kerinduan saya saat lulus SMA hanya satu. Saya mau kuliah di luar Palu yang tidak memberatkan ortu dalam hal finansial. Dengan tekad itu pula yang mengantar saya sampai di tempat yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya.

Dan inilah saya saat ini, sedang menjalani masa kontrak yang sisa setahun lagi.

Sejujurnya saya blank dengan apa yang bakal saya kerjakan setelah ini. Saya merasa hopeless. Saya merasa khawatir sekali dengan apa yang orang-orang sebut "masa depan". Padahal, tanpa saya bertanya pun sebenarnya Dia sudah jelas mengatakan kalau rancangan-rancanganNya dalam hidup saya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Tetapi saya lebih mengizinkan kekhwatiran pegang kendali atas hidup saya saat ini. Akibatnya, hidup saya dipenuhi ketakutan demi ketakutan. Bukan itu saja, saya mulai menyalahkan diri saya akan apapun yang saya alami. Saya merasa sangat jauuuuuuuuh dengan kondisi damai sejahtera.

Saya diingatkan kembali akan janjiNya melalui nubuatan seorang Pastor di Gereja saya ketika masih di Bandung, beliau mengatakan, "jangan takut untuk apa yang akan kamu hadapi di depan, kamu akan dipakai menjadi besar di tempat dimana kamu akan pergi.." JENGJENG! Padahal saya ga pernah ngasih tau sebelumnya kalau saya akan meninggalkan Bandung dalam waktu dekat. Tetapi dengan ajaibnya Tuhan memakai Pastor itu untuk meneguhkan saya. Dan itu terbukti, baru beberapa bulan kembali di Palu, Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi seorang youth leader di Gereja lokal saya. Walaupun banyak pergumulan yang saya hadapi dalam memimpin di komunitas ini, tapi kasih sayang Tuhan terus berlaku dalam "menangkap" saya untuk tidak lari meninggalkan komunitas ini.

Sampai akhirnya saya merenung...
Aphro, dimana kamu taruh iman kamu? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, why still worry? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa bandingin masa depan kamu dengan kisah orang lain? Kalau kamu taruh iman kamu sama Tuhan, kenapa kamu takut? 
Kenapa?
Karena simply, saya lebih menaruh iman kepada yang kelihatan daripada yang gak kelihatan. Which is itu berarti bukan iman. Dan untungnya Tuhan masih terlalu amat sabar sama saya. Then i know i have a faithful God. Ya, sekarang memang saya belum melihat apapun yang akan terjadi didepannya, saya belum melihat pintu-pintu lain yang akan terbuka untuk saya, saya belum tahu apa yang bakal saya lakuin, i don't understand His plan for me nowadays, i don't know what His will. But one thing i know for sure... Even when i don't understand His plan for me, i know He is with me.
 
You don't have to be worry, you don't have to be afraid, because I AM WITH YOU, says the Lord. 
 
Di depan memang saya gak tau akan seperti apa, gak tau apa yang akan terjadi, gak tau harus bagaimana dalam menghadapi apa, but i know, Tuhan ada di depan sana, He has prepared great things for me, He has greater plan than i have for myself.
 
And 'til the doors are opened, i'm gonna still praise Him in the hallway. Because i know, Who's My Future Holder.

Selasa, 21 Januari 2014

(Bukan) Tentang Sebuah Penantian

0 komentar
Kemuning semburat senja menyapanya kembali. Entah sudah senja keberapa yang dilaluinya dengan menatap lengangnya jalanan. Memperhatikan satu per satu orang-orang yang dihadirkan semesta untuk melalui jalan itu. Ada yang tergesa-gesa, ada yang berjalan pelan-pelan, ada yang berjalan seperti tak tentu arah. Ah, seperti yang dia rasakan saat ini. Sesuatu yang tak tentu arahnya. Sesuatu yang tak kunjung datang. Entah apa yang membuatnya bertahan sebetah itu. Keyakinan, mungkin? Sayangnya, hingga detik ini keyakinan tersebut kunjung tak berbalas. Tetapi dia masih disana, menanti dengan menggenggam harapan ditangan kiri, dan keyakinan ditangan kanannya.

Sebelumnya menanti tidak pernah semudah ini. Menurutnya. Walaupun beberapa orang menganggapnya seperti menjaring angin. Sia-sia. Tetapi keyakinannya mampu membawanya sejauh ini pada sebuah hal yang seringkali membuat banyak orang apatis; Penantian.

Di titik temu tempat yang menanti dan dinanti bertatapan, disana segumpal rindu menunggu untuk segera menguap. Ada desakan, "Mengapa baru sekarang?" yang tersampaikan darinya yang menanti. Ada sukacita dari dia yang dinanti, karena telah dijagai sejauh ini oleh genggaman harapan dan keyakinan olehnya yang menanti. Sebab genggaman harapan dan keyakinan yang berwujud doa itulah yang membawa dia bertemu dengan yang menanti. Seperti papan penunjuk arah. Berjalan dengan pasti menemui dia yang hampir kehilangan arah dalam menanti.

Tidak semua penantian akan berakhir selamanya. Tetapi beberapa dari mereka cukup bersyukur karena sempat dipertemukan. Mungkin saja sempat menabung asa untuk hari-hari depan yang masih penuh misteri. Bukannya kau masih bisa menikmati sendiri isi tabunganmu? Atau, kembali ingin berbagi dengan yang lain?

Sampai disini dia diingatkan. Cinta bukan tentang menanti dan menunggu. :')


"... cinta bukan tentang menanti dan menunggu
tetapi memang telah waktunya tuk bertemu
walau tak selalu berakhir bersama
mungkin nanti kan bertemu kembali ..."
( 168 - Monita Tahalea )

Rabu, 18 Desember 2013

Yang (Kadang) Terlupakan

0 komentar
Pernah denger kan cerita tentang Maria dan Martha? Pasti udah nggak asing lagi deh dengan cerita itu.
Kalo masih agak-agak lupa nih saya kasih perikopnya : 
(Lukas 10:38-42)
10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 
10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 
10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 
10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 
10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Well, beberapa waktu belakangan ini, mungkin sekitar setahun terakhir ya, kayanya banyak banget hal yang harus diurusin baik di kantor maupun di Gereja. Kalo di kantor ritme kerjanya lumayan bisa diatur lah, tetapi untuk porsi bolak-balik rumah-gereja kayanya ga ada habis-habisnya dalam seminggu. Ada-ada aja urusan youth yang harus dikerjain. Rapat, latihan, ngelaksanain proker, visitasi, urus ini, itu, dan... Kog rasa-rasanya repot banget sama hal yang sering disebut "pelayanan" itu. Tiap mo pamit sama papa mama, "Ma.. Pa.. pergi dulu yaa.. Ada pelayanan di sana." It sounds so religious maybe but deep inside i felt soooooooo tired. Dan ini semua berimbas ke jam saat teduh dan jam-jam doa. Pulang dari aktifitas seharian rasanya udah pengen langsung tidur aja, i lost my passion when i pray. Rasa-rasanya gairah untuk bercakap-cakap dengan Dia udh sangaaaat memudar. Hanya sebatas doa, "Terimakasih Tuhan buat hari ini, saya mo tidur, jagai saya, blablabla..", sampai saya mikir, ini doa atau laporan sebenarnya.. Imbasnya saya jadi gampang unmood, unstable, dan tiap ada waktu kosong sedikitpun pasti saya pakai untuk hura-hura, maen kesana dan kesini, dan mencari pelampiasan di tempat lain yang bisa mengurangi segala keletihan saya dengan "pelayanan" ini.

Back to cerita Martha dan Maria, akhirnya saya sadar bahwa saya sudah menjadi Martha yang sangat sibuk urus ini, urus itu. Keliatannya sih bagus yaa tapi saya tidak sadar bahwa saya sudah melupakan bagian terbaik saya yaitu: duduk diam di kaki Tuhan, bangun hubungan intim sama Tuhan. 
Indikator paling jelasnya adalah jam saat teduh dan jam doa saya berantakan, saya gak lagi menyediakan tapi jadi menyisakan waktu untuk Tuhan. Oh God, forgive me! 
Berkali-kali ketika saya baca cerita Martha dan Maria, saya selalu bingung, kenapa sih kog seolah-olah Tuhan lebih membenarkan Maria. Emang salah ya kalo Martha sibuk melayani? Kalo nggak ada orang-orang yang mo sibuk di pelayanan, mana bisa? Nah setelah saya mengalami keletihan rohani ini, saya akhirnya paham. Bukannya kita tidak boleh melayani, bukannya nggak boleh sibuk, tapi kita harus tau waktu-waktu dimana kita harus sibuk, dimana kita hanya harus duduk diam di kaki Tuhan, dengerin Tuhan ngomong apa. 
Dalam pelayanan juga gitu, ada kalanya kita bekerja, dalam arti urusin acara ini dan itu di Gereja, bikin program ini dan itu tapi ingat kita nggak boleh melupakan bagian yang terbaik yaitu build intimacy with God. Kenapa Tuhan bilang bahwa Maria memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya? Karena pelayanan kita, kesibukan kita, itu bisa hilang dan diambil begitu saja. Yaa that's true. Saat ini mungkin kita jadi ketua youth, jadi ketua ini dan itu, tapi sampai kapan sih? Nggak mungkin kan seumur hidup kita jadi ketua youth? Tapi yang namanya hubungan pribadi sama Tuhan, intimacy itu nggak akan ada yang bisa ambil dari hidup kita. Sifatnya private, antara kita dan Tuhan! =) 
Yuk kita belajar untuk mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan lebih dari apapun, lebih dari kesibukan pelayanan kita. 
Program-program yang kita rancang di Gereja, itu seharusnya lahir dari pewahyuan yang Tuhan berikan lewat hubungan pribadi kita dengan Tuhan bukan hanya dengan akal manusia. 
and..
the best place in the world is in the Presence of God..

Senin, 16 Desember 2013

December and the wishes.

0 komentar
Holaaaa..
Udah lama ya kayanya saya hengkang dari blogspot :D
too many stories untold, HAHA.

Here comes December. Ga kerasa udah bulan terakhir di tahun ini. Dan ya, ini Desember pertama tanpa Glorify the Lord Ensemble. Berasa banget jomplang perbedaannya. Mengingat Desember-desember sebelumnya selalu penuh dengan kehectican bersama keluarga favorit ini. How i miss to spent my December with them. *tearsdrop*

Makin bertambah hari, makin bertambah juga umur tentunya. Yang dulunya sangat mengidam-idamkan boneka winnie the pooh as a christmas gift, tahun ini udah bahagia banget ngeliat keluarga bisa kumpul, lengkap, sehat, dan penuh sukacita. Yang dulunya kegirangan banget tiap dapat parsel aneka snacks, makanan, and so on, tahun ini lebih menginginkan parsel the body shop lengkap, HAHAHAHA. :p

So, as days gone by days, years by years, this is my grown up christmas list..

No more lives torn apart,
and wars would never start,
and time would heal all hearts.
Ev'ry one would have a friend,
that right would always win,
and love would never end:
This is my grown-up christmas list.
 (My Grown Up Christmas List - Kelly Clarkson)

Not for myself, but for a world in need :')

Rabu, 27 Maret 2013

Sudah Selesai.

0 komentar
Waktu SD, di pelajaran agama, saya dan teman-teman kerapkali disuruh menghafal 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib. Sepaket dengan menghafal Doa Bapa Kami dan 10 Hukum Taurat. Tetapi namanya anak SD, itu semua hanya berakhir sebagai hafalan saja tanpa mengerti dengan benar makna dari itu semua. Days by days, segala pengertian demi pengertian akan itu semua pun mulai dibukakan. Banyak hal yang, "Gila, JLEB banget!", "Aaah, sweet banget sih Tuhan", dan tak sedikit berakhir dengan, "Lord, forgive me.."
Ya, segala tulisan yang diilhamkan kepada kita memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik kita dalam kebenaran.:')

Hari ini, di minggu-minggu sengsara, dimana umat Kristen di seluruh dunia akan memperingati kematian Isa Almasih di Kayu Salib, membawa perenungan sendiri bagi saya. Ini bukan semacam ritual tahunan yang hanya berlalu dengan bangun pagi, berdoa, ke Gereja, Perjamuan Kudus dan pulang. Bukan, saya bukan anak kelas 3 SD lagi yang hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan Guru Agama dan Orang Tua. Ada tanggung jawab yang saya pikul memaknai karya penyelamatanNya. Dan tanggung jawab ini bukanlah sebuah hal yang memberatkan saya, karena saya tau ada sukacita yang besar ketika saya hidup dan melakukan apa yang Dia kehendaki.

Berbicara tentang karya penyelamatan yang Dia lakukan, yang bisa saya lakukan hanya speechless..
He's too good to be true! But yes, He's so truuuuuuuue because His goodness is unlimited.
Menyinggung apa yang sempat saya tulis di awal postingan ini mengenai 7 Perkataan Tuhan Yesus di Kayu Salib, ini bukan hanya sekedar perkataan tanpa makna. Ini adalah pernyataan, janji, dan pengharapan.

UCAPAN PENGAMPUNAN
1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat"

UCAPAN KESELAMATAN
2. "Aku berkata kepadaMu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus"

UCAPAN KASIH
3. "Ibu, inilah anakMu." "Inilah Ibu-mu"

UCAPAN PENDERITAAN ROHANI
4. "Eli, eli, lama sabakhtani? -- Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

UCAPAN PENDERITAAN JASMANI
5. "Aku haus.."

UCAPAN KEMENANGAN
6. "Sudah selesai."

UCAPAN PENYERAHAN
7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, ku serahkan nyawa-Ku"

Dari ketujuh perkataan yang Tuhan Yesus ucapkan di kayu salib ada satu yang-dulunya-paling-cepat-saya-hafalkan. "Sudah Selesai". Entah kenapa saya begitu menyenangi pernyataan ini. Ketika menonton film "The Passion of The Christ" dan di scene Tuhan Yesus mengatakan kalimat ini, seperti ada kelegaan tersendiri yang saya rasakan. Seperti ucapan yang menenangkan kalau "everythings gonna be alright, keep calm dear aphro.." -- SUDAH SELESAI. Mengapa Dia mengatakan itu kepada kita? Karena Dia ingin kita mengetahui bahwa segala sakit penyakit kita sudah Dia SELESAIKAN di atas Kayu Salib. Segala kekuatiran kita akan masa depan, segala ketakutan kita akan persoalan hidup, segala pergumulan yang tumpang tindih, segala ketidakpastian akan banyak hal, SEMUANYA SUDAH DIA SELESAIKAN. Bagian kita saat ini adalah menerima Kemenangan yang sesungguhnya. Banyak diantara kita yang protes karena hidup yang kita jalani masih gitu-gitu aja, ga ada hal-hal bombastis seperti kebanyakan orang, hey.. look at the Cross, dear! Semuanya sudah Dia selesaikan dengan SEMPURNA! Ketika kamu kehilangan pengharapan, just look at the Cross. Kalo ada hal-hal yang masih carut-marut saat ini, fix it with His Grace. Let's receive His victory!



Blessings,
-aphro-

Selasa, 15 Januari 2013

Dear 2013...

0 komentar

2012 has gone…

Banyak proses yang saya lewatin sepanjang tahun ini. Tahun dimana saya diproses dari seorang mahasiswa tingkat akhir menjadi seorang wisudawan. Tahun dimana saya diproses di komunitas terbaik yang pernah saya temui, Glorify the Lord Ensemble. Banyak hal yang datang ditahun ini, tak sedikit juga hal yang pergi. Siapa bilang saya menjalani tahun ini dengan lancar mulus? Iya, saya pernah tersendat, bahkan sudah menemui jalan buntu, tapi Tuhan yang saya sembah sangat ahli menyediakan jalan lain dan memerintahkan saya untuk putar arah. Awalnya saya kekeuh dengan jalan yang saya mau, tapi sekali lagi saya sadar, kalau saya bukan pemegang kemudi, DIA yang mengendarai, saya duduk disampingnya. Bukankah itu lebih dari aman untuk percaya saja? Sekali lagi sebagai manusia saya sering meragukan DIA.  Saya meragukan jalan-jalan dimana DIA mau bawa saya. Sampai akhirnya, ketika DIA bawa saya ke satu perhentian demi perhentian, saya menyadari bahwa jalan yang tak terselami itu selalu mendatangkan kebaikan.

Di penghujung tahun ini, tepatnya tanggal 23 Desember, dengan resmi saya meninggalkan kota kembang tempat saya menimba ilmu dan jatuh cinta dengan hidup. Selesai menamatkan pendidikan, saya harus segera meninggalkan Bandung karena ada tugas dan tanggung jawab yang harus saya kerjakan di kota kelahiran saya. Inilah proses move on yang sesungguhnya, ketika kamu harus memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sudah kamu anggap ‘Home’. Home disini bukanlah sebuah bangunan. Tapi Home adalah tempat dimana hatimu berada. Berbicara mengenai passion hidup dan lingkungan sekitar, Bandung sudah menjawab itu semua. Saya senang tinggal disini, saya jatuh cinta dengan atmosfir kota ini. Seolah menjawab setiap keresahan hati ini, sabtu sore kak @perempuansore post sebuah tweet yang isinya, “Akhirnya bagi anak daerah yang keluar, yang paling mulia yang bisa dilakukan: berbuat untuk membangun daerahmu” -- JLEB! Dari sini gue belajar untuk berbesar hati kalo kepulangan saya ke Palu bukan untuk liburan atau main-main. Tetapi untuk membangun daerah. Kalau bukan anak daerah, siapa lagi? Toh kalo jodoh suatu saat pasti balik lagi. Kalo jodoh sama Bandung, yah suatu saat pasti akan dibawa lagi kesini :’)

Dan selamat datang 366 hari di tahun 2013. I’ll spent days by days not to counting my problems, but counting the blessing.

Love,
-aphro-

Senin, 10 Desember 2012

there is always HOPE

0 komentar

"kalau kau ingin berhenti,
INGAT TUK MULAI LAGI..."
-Letto

Senin, 22 Oktober 2012

Beli biskuit, ga pake kotaknya!

0 komentar
Dari judulnya, kayanya aneh ya? Well, kalo dibaca baik-baik, direnungin artinya.. Nah! Dapet deh.
Mungkin ga sih kalo lu ke supermarket nih, beli biskuit yang lu doyan banget, tapi lu ga mau beli bungkusnya juga sekalian, soalnya bungkusnya jelek? Aneh? Emang.
Tapi, sayangnya, inilah yang seringkali terjadi pada kita. Kita ngeliat sesuatu cuma dari satu sisi doang. Cuma dari satu bagian doang. Bagian yang kayanya enak. Bagian yang lu suka. Bagian yang sesuai sama yang lu mau.
Kita kadang milih teman yang baik menurut kita. Yang sesuai sama mau kita. Tanpa menyadari kenyataan bahwa, ngga akan ada orang yang bener-bener sesuai sama apa mau kita. Agree? ☺
Jadi begini kisahnya…
Belakangan ini gue ketemu banyak temen-temen baru. tapi makin kesini gue makin mikir, mana yang temen banget, apa temen aja :p
awalnya banyak hal yang bisa gue share ke temen-temen gue ini, tapi seiring dengan makin lamanya waktu kita bareng-bareng, Tuhan makin nunjukin mana yang hadir buat ngasah gue, mana yang hadir buat motong-motong gue. iiih, jadi ngeri gini ya bahasanya :p
minggu lalu, gue terima SMS dari temen baik gue yang di Palu. Isinya sih cuma renungan singkat sejumlah kurang dari 160 karakter. Isinya begini, “Think about it : Can you buy a box of biscuits without its box?” well, gue setengah mati mikir apa artinya, sambil ngantuk-ngantuk karena itu udah hampir dini hari. And, yah! finally i found out what it means ☺
Intinya yang mau gue share di sini sih.. lu ga bisa ngeliat sesuatu cuma dari satu sisi aja. ga bisa lu nerima sesuatu cuma karena bagus2nya aja. koin aja punya dua sisi. begitu juga semua hal yang ada di muka bumi ini. bahkan ketika lu ngeliat suatu peristiwa, there are always two stories about it. intinya sama, cuma ceritanya aja yang beda. bagus, jelek.. sama aja, yang bikin beda ya, gimana cara kita nyikapinnya aja. ☺
Be wise, guys! xoxo.
 

aphrodityasherlisa Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template